Dream - Tingginya kasus bunuh diri warga membuat pemerintah Korea Selatan khawatir. Data pemerintah Negeri Ginseng itu menunjukkan setidaknya ada 40 kasus bunuh diri dalam sehari.
Di tengah fenomena memprihatinkan itu, sebuah respons aneh dilakukan. Bukan membuat pelatihan manajemen keuangan, peningkatan keterampilan, atau pula pemberian pinjaman. Namun dengan "sekolah kematian".
Ya, sekolah itu ingin memberikan "pengalaman kematian" kepada para siswa. Tujuannya, dengan mengetahui bagaimana rasanya meninggal dunia, para murid yang depresi atau tertekan hidupnya tak bunuh diri dan menghargai hidup mereka.
Dalam program itu, para murid diminta untuk membuat wasiat terakhir. Mereka kemudian dimasukkan ke dalam peti mati. Dikunci, dan kemudian pura-pura hendak dikuburkan.
Orang boleh memandang cara ini aneh. Namun itulah yang terjadi. Dan ternyata, program ini menjadi lahan bisnis baru. Pusat terapi, Seoul Hyowon Healing Center, yang berada di ibukota negara itu banjir klien. Bisnis pun lancar.
Di pusat terapi itu, para murid diminta duduk di antara peti mati. Mereka memegang pulpen dan kertas. Di hadapan mereka tersedia meja mungil. Mereka mendengarkan petuah dari kepala pusat terapi itu, Jeong Yong-mum.
Dalam petuah itu, Yong-mum mengatakan bahwa permasalahan itu merupakan bagian dari hidup. Sehingga harus menerima masalah itu dan mencoba mencari kesenangan di tengah kesulitan hidup itu. Masalah harus diselesaikan, bukan ditinggal lari, atau bahkan ditinggal mati.
Di antara peserta program ini adalah murid-murid berusia belasan tahunyang tidak bisa mengatasi tekanan ujian sekolah, orangtua yang merasa tak berguna setelah ditinggalkan anak-anak mereka, dan orang-orang lanjut usia yang takut menjadi beban keuangan bagi anak-anak mereka.
Korea Selatan merupakan negara yang secara ekonomi mengalami lonjakan luar biasa secara cepat. Semula, Korsel termasuk negara termiskin di dunia, namun dalam waktu beberapa dekade, menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke-12 dunia.
Booming ekonomi dalam waktu singkat itu ternyata menimbulkan masalah. Beban keuangan semakin tinggi. Perubahan ideologi dari kolektivisme ke individualisme, disintegrasi unit keluarga tradisional, telah menjadikan banyak orang terisolasi dan merasa sendirian.
Menurut Badan Statistik Korsel, sepertiga masyarakat di sana masih percaya bahwa mereka harus memberikan dukungan kepada saudara tua secara finansial. Sehingga banyak orangtua yang khawatir akan menjadi beban. Sehingga potensi mereka untuk bunuh diri menjadi berlipat, empat kali lipat daripada penduduk di negara berkembang.
Menurut data Badan Kesehatan dunia (WHO), satu-satunya negara dengan tingkat kematian lebih tinggi dari Korsel adalah Guyana, negara kecil di Amerika Selatan. Negara ini memiliki tingkat bunuh diri 44,2 kasus bunuh diri per setiap 100.000 orang. Sementara di Korea Selatan 28,9 orang bunuh diri untuk setiap 100.000.
Di "sekolah kematian" Hyowon Healing Centre, para murid seolah-olah menjalani prosesi penguburan dengan membawa foto mereka. Para murid itu berada di samping peti mati dengan mengenakan busana tradisional.
Setelah itu, mereka menulis surat wasiat atau menulis surat perpisahan untuk keluarga mereka, sebelum membaca kata-kata terakhir mereka di hadapan semua murid di "sekolah kematian" itu.
Dengan itu diharapkan para siswa di "sekolah kematian" ini tahu dampak yang dimunculkan akibat kematian terhadpa keluarga mereka. Tentu keluarga akan merasa sangat kehilangan. Sehingga mereka akan berpikir berkali-kali dan tak melakukan bunuh diri.
Setelah pembacaan surat wasiat, kepala pusat terapi memasuki ruangan dan berkata kepada semua siswa bahwa waktu kematian telah datang. Lilin pun segera dinyalakan. Dan orang yang mengenakan pakaian, menyerupai "malaikat kematian" dalam masyarakat Korea Selatan, memasuki ruangan.
Para murid kemudian berbaring di dalam peti dan kemudian ditutup. Kemudian mereka ditinggalkan sendiri, dibiarkan merenung di dalam peti mati itu.
Saat para murid bangkit dari peti mati, mereka merasa "segar" dan "terbebas" dari masalah hidup mereka. Setelah itu, Yong-mun kembali berceramah, "Anda telah tahu seperti apa rasanya meninggal dunia. Anda masih hidup, dan Anda harus berjuang!" (Sumber: Daily Mail)
sumber | republished by Halo Unik !


No comments:
Post a Comment