Kondisi kawah Gale menunjukkan Mars adalah tempat yang sama sekali berbeda dengan 3,5 miliar tahun silam. Ashwin Vasavada, anggota tim Curiosity dari Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, mengatakan Mars dulu mungkin sebuah tempat yang hangat, basah, dan memiliki atmosfer tebal. Namun pemodelan cuaca belum bisa menunjukkan bagaimana kondisi itu bisa bertahan dalam jangka panjang.
"Mungkin apa yang terlihat adalah hasil dari iklim basah dan hangat yang singkat bisa tercipta akibat aktivitas vulkanis, perubahan orbit, atau hantaman asteroid raksasa," kata Vasavada. "Semuanya aktif pada saat gunung Sharp terbentuk."
Para peneliti penasaran dengan asal-usul dan proses evolusi Gunung Sharp sejak sebelum Curiosity diluncurkan. Curiosity mencapai kaki gunung itu setelah menempuh perjalanan selama 14 bulan. Observasi yang dilakukan wahana itu mulai membuka tabir misteri gunung tersebut. Di beberapa lokasi yang dipotret Curiosity, peneliti menemukan ada lapisan sandstone yang miring ke arah Gunung Sharp. Di bumi, lapisan seperti itu biasa dijumpai di delta-delta sungai yang berujung ke danau.
Anggota tim riset Curiosity, Sanjeev Gupta, menduga lapisan-lapisan itulah yang membentuk ciri permukaan Mars. Menurut Gupta, lapisan pembentuk delta itu cukup dangkal dengan kedalaman hanya beberapa meter. Danau itu mungkin juga tidak terlalu dalam. Jika deltanya saja hanya beberapa meter, cukup sulit memperkirakan berapa kedalaman seluruh danau.
Tumpukan lapisan dengan ketinggian yang beragam menunjukkan mereka terbentuk dalam beberapa siklus. "Delta-delta yang ada sangat kecil, itu menjadi pertanda bahwa pernah ada alur air di sana," kata ilmuwan dari Imperial College London itu.
Curiosity juga menemukan formasi batuan khusus di dasar Gunung Sharp yang dikenal sebagai Pahrump Hills. Formasi batuan itu sebelumnya belum pernah terlihat di Mars. Di Bumi, formasi batuan serupa terbentuk ketika sedimen rontok perlahan-lahan. John Grotzinger, ilmuwan dari California Institute of Technology, Pasadena, mengatakan hal itu bisa menjadi indikator adanya air yang tidak bergerak.
Di Pahrump Hills juga ditemukan kristal di bebatuan menyerupai garam yang tersisa setelah air menguap. Grotzinger membayangkan lingkungan itu dulunya bukanlah terdiri atas satu danau yang bertahan jutaan tahun. "Ini adalah bentuk sedimentasi delta, danau, dan gurun tandus yang terus berganti rupa selama puluhan juta tahun sebagai sistem yang saling berhubungan," ujar Grotzinger.
Dari wujud tumpukan deposit cukup sulit untuk mengetahui apakah Gunung Sharp sudah ada sebelumnya. Air diperkirakan bergerak turun ke arah utara menjauhi Gunung Sharp. Grotzinger mengatakan lapisan-lapisan itu menjadi penanda waktu saat air bergerak dari tepi kawah ke bagian dalam. "Mereka membentuk beberapa tumpuk lapisan yang kemudian tererosi dan membentuk Gunung Sharp," kata Grotzinger.
sumber | republished by Halo Unik !
Anggota tim riset Curiosity, Sanjeev Gupta, menduga lapisan-lapisan itulah yang membentuk ciri permukaan Mars. Menurut Gupta, lapisan pembentuk delta itu cukup dangkal dengan kedalaman hanya beberapa meter. Danau itu mungkin juga tidak terlalu dalam. Jika deltanya saja hanya beberapa meter, cukup sulit memperkirakan berapa kedalaman seluruh danau.
Tumpukan lapisan dengan ketinggian yang beragam menunjukkan mereka terbentuk dalam beberapa siklus. "Delta-delta yang ada sangat kecil, itu menjadi pertanda bahwa pernah ada alur air di sana," kata ilmuwan dari Imperial College London itu.
Curiosity juga menemukan formasi batuan khusus di dasar Gunung Sharp yang dikenal sebagai Pahrump Hills. Formasi batuan itu sebelumnya belum pernah terlihat di Mars. Di Bumi, formasi batuan serupa terbentuk ketika sedimen rontok perlahan-lahan. John Grotzinger, ilmuwan dari California Institute of Technology, Pasadena, mengatakan hal itu bisa menjadi indikator adanya air yang tidak bergerak.
Di Pahrump Hills juga ditemukan kristal di bebatuan menyerupai garam yang tersisa setelah air menguap. Grotzinger membayangkan lingkungan itu dulunya bukanlah terdiri atas satu danau yang bertahan jutaan tahun. "Ini adalah bentuk sedimentasi delta, danau, dan gurun tandus yang terus berganti rupa selama puluhan juta tahun sebagai sistem yang saling berhubungan," ujar Grotzinger.
Dari wujud tumpukan deposit cukup sulit untuk mengetahui apakah Gunung Sharp sudah ada sebelumnya. Air diperkirakan bergerak turun ke arah utara menjauhi Gunung Sharp. Grotzinger mengatakan lapisan-lapisan itu menjadi penanda waktu saat air bergerak dari tepi kawah ke bagian dalam. "Mereka membentuk beberapa tumpuk lapisan yang kemudian tererosi dan membentuk Gunung Sharp," kata Grotzinger.
sumber | republished by Halo Unik !
No comments:
Post a Comment