Ini dia Fakta Jakarta Kota Berstandar Hidup Mahal


Jakarta, yang berpenduduk 10 juta jiwa tenyata tergolong kota berstandar hidup mahal, dibandingkan Hong Kong, New York, London, Bangkok, Shanghai, Mumbai, Tokyo, Paris dan Sydney. Benarkah? Ini Faktanya.



Country Manager Ipsos Business Consulting Indonesia Domy Halim di Jakarta, baru-baru ini mengungkapkan hasil survei Ipsos Business Consulting (BC) di minggu terakhir Februari 2014 lalu, yang menyimpulkan secara umum, Jakarta tergolong kota berstandar hidup mahal.

Menurut Domy berdasarkan hasil survei, Jakarta, ternyata lebih mahal dari Bangkok, Hong Kong dan New York, berbanding relatif dengan gaji rata-rata masyarakat Indonesia.

Survei Ipsos Business Consulting, 21 Februari 2014 lalu memang telah meneliti standar hidup masyarakat Jakarta, setelah membandingkannya dengan kota-kota besar lain dari beragam benua, seperti Hong Kong, New York, London, Bangkok, Shanghai, Mumbai, Tokyo, Paris dan Sydney.

"Metode yang kami gunakan untuk perbandingan standar hidup masyarakat kota Jakarta dengan kota-kota lain tersebut adalah dengan membandingkan harga dari produk-produk konsumtif yang cenderung menjadi kebutuhan dan keinginan masyarakat masa kini. Produk-produk tersebut mulai dari harga secangkir kopi, tiket bioskop, ponsel, ayam KFC, baju Zara, gym membership, penginapan di hotel sampai harga berlangganan internet," ujar Domy.

Ipsos Business Consulting Indonesia: www.IpsosConsulting.com mendapatkan hasil perbandingan akurat, dengan membandingan harga dari setiap kota, tepat 21 Februari 2014 lalu, berdasarkan spesikasi jelas untuk setiap produk-produk tersebut.

"Untuk harga, kami mengacu pada harga produk sama di setiap negara. Setelah mengkonsolidasikan harga setiap kota dari produk-produk tersebut, kami mengkonversikan harga produk-produk tersebut ke satu nilai mata uang Amerika ($) tanggal 21 Februari 2014 lalu. Kemudian, gaji rata-rata orang di setiap negara di kota-kota metropolitan yang bersangkutan diperbandingkan langsung dengan harga dari produk-produk tersebut," jelas Domy.

Hasilnya, di antara banyak fakta ada 4 fakta terungkap bahwa Jakarta, kota bersantadar hidup mahal di dunia.

Fakta 1
Harga secangkir Hot Cappucino Grande Starbucks di Jakarta US$2,88 senilai Rp34,000). Itu lebih murah hampir separuh harga di HongKong US$4.38). Akan tetapi, secangkir kopi di Jakarta menghabiskan 1,12% gaji rata-rata penduduk Indonesia. Sedangkan di Hong Kong hanya menghabiskan 0.28% dari gaji rata-rata. Tercatat gaji rata-rata masyarakat Indonesia US$258, sedangkan gaji rata-rata masyarakat Hong Kong US$1.545.

"Dengan demikian, setelah memperhitungkan faktor gaji, harga secangkir kopi di Jakarta relatif lebih mahal 75% daripada harga secangkir kopi di Hong Kong. Dengan pendekatan yang sama, ketika dibandingkan dengan ibukota negara tetangga, yakni Bangkok, harga kopi di Jakarta lebih mahal 35% karena gaji rata-rata masyarakat di sana US$489," kata Domy.

Fakta 2
Harga tiket bioskop standar malam Minggu di Jakarta berkisar US$4.24 atau Rp50,000. Sedangkan di New York harganya bisa mencapai US$14.50 dengan gaji rata-rata US$3.263.

"Menonton bioskop di New York akan tampak 73% lebih murah daripada menonton bioskop di Jakarta," terang Domy. 

Fakta 3
Harga fasilitas internet broadband di Jakarta jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga di kota-kota lain. Paket internet broadband terbaik di Jakarta memiliki kapasitas kecepatan download 100 Mbps dengan harga US$252.46 atau Rp2.979.000. Menurut penelitian, sedangkan di HongKong dengan kemampuan 10 kali lipat lebih cepat (1000 Mbps), harganya 3 kali lipat lebih murah.

Fakta 4
Mengkonsumsi produk-produk lain, seperti harga semalam menginap di hotel Four Seasons, ayam goreng KFC, kemeja Zara Women, smart phone Samsung S4 atau harga 1 tahun gym membership, penghasilan masyarakat Jakarta relatif lebih kecil dibandingkan dengan penduduk di kota-kota besar di negara lain (HongKong, New York, London atau Sydney).

"Namun perlu diingat bahwa produk-produk diatas pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat golongan menengah ke atas. Faktor tingkat sosial seseorang akan mempengaruhi persepsi tingkat mahal atau murahnya suatu produk," papar Domy.

"Jadi menurut Anda apakah Jakarta sama dengan (=) Kota Mahal?," imbuh Domy. [aji]








Back to Top

Artikel Terkait Lainnya

Back to Top