Sejak sekitar tanggal 4 Februari, air laut di Pantai Karangantu, Serang, Banten tiba-tiba surut. Bahkan fenomena yang sebetulnya biasa bagi masyarakat sekitar itu, sempat heboh lantaran kabar hoax soal tsunami.
Pantauan, di Desa Banten, Karangantu, Serang, Banten, Sabtu (8/2/2014), pantai yang surut itu jika dihitung dari garis pantai normal ke arah laut berjarak sekitar 20 meter. Air laut yang surut itu memanjang sepanjang garis pantai ke arah Bojonegara.
Sempat beredar kabar air laut itu surut hingga 500 meter dan bahkan hari ini bertambah menjadi 1 Km. Padahal jika dilihat langsung, hanya sekitar 20 meter ke arah laut. Warga sekitar menganggap fenomena itu biasa, bahkan ada yang menyebut sudah terjadi sejak 1 Februari.
"Itu mah biasa, nanti sekitar tanggal 15-an juga udah normal lagi. Atau 3 hari lagi ke sini aja pasti biasa lagi," kata warga sekitar berprofesi nelayan, Karni kepada detikcom.
Tak ada kepanikan sejak air laut itu surut, seperti yang sempat heboh baik di media sosial maupun beberapa pemberitaan. Warga hingga hari ini beraktivitas seperti biasa, begitu juga nelayan masih ada yang tampak melaut.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sudah menjelaskan tidak ditemukan hubungan antara penyurutan air laut itu dengan aktivitas gempa bumi. Fenomena laut surut itu lebih cenderung disebabkan karena gaya gravitas bulan yang memang berpengaruh pada pasang surut air laut.