Inilah Fakta Kalau Hutan Sengaja Dibakar Untuk Perkebunan Sawit


Sudah tiga bulan lebih sejumlah wilayah di Indonesia terkena kabut asap. Kabut asap itu diakibatkan kebakaran hutan dan lahan yang belum juga padam.



Namun, fakta baru terungkap dari masalah kebakaran hutan dan lahan yang kini belum padam. Saat meninjau langsung salah satu titik kebakaran di sekitaran Tumbang Nusa, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dikejutkan dengan sejumlah tanaman kelapa sawit.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho geram dengan temuan tersebut. Menurut dia, hutan dan lahan itu sengaja dibakar oleh perusahaan kelapa sawit.

Kekesalan Sutopo oleh ulah perusahaan yang sengaja membakar lahan itu juga dituangkan lewat akun Twitter-nya di @Sutopo_BNPB. Dua hari lalu Sutopo mengunggah gambar via Twitter yang menunjukkan tunas sawit telah muncul di bekas lahan terbakar.

"Lahan bekas kebakaran di Nyaru Menteng Palangkaraya sudah ditanami kelapa sawit. Habis bakar terbitlah sawit," tulis Sutopo di akun Twitternya @Sutopo_BNPB seperti dikutip merdeka.com, Rabu (21/10).

Dalam akunnya tersebut dia pun menyertakan beberapa foto hutan yang ludes terbakar kini tumbuhi kelapa sawit. Menurut Sutopo, foto-foto itu tidak diambil langsung olehnya, namun oleh rekan-rekannya di BNPB dan Badan Nasional Penanggulangan Daerah setempat. 

"Kami di BNPB dan BPBD saling share gambar di lokasi kebakaran. Saya sudah melakukan verifikasi atas gambar itu. Itu informasi umum," kata dia.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya mengatakan, hingga saat ini masih berjibaku terkait kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi di Indonesia. Dia mengeluh setelah mengetahui betapa sulitnya memadamkan api di lahan gambut.

Area hutan yang terbakar, kata Siti, sangat luas, dengan tingkat kesulitan pemadaman yang sangat tinggi. Dari sekian lahan yang terbakar, sekitar 550 ribu hektar adalah lahan gambut. Khusus lahan gambut, proses penanganannya butuh waktu ekstra dan kerja keras.

"Lahan gambut itu meski api di atasnya terlihat sudah mati, tetapi 5, 6 sampai 8 meter ke dalam, ada rongga-rongga dan bara apinya. Tetapi yang saya lihat Selasa kemarin, betapa sulitnya kalau gambut sudah terbakar," kata Siti saat melawat ke Batu, Malang, Kamis (22/10).

Menurut Siti, upaya dilakukan saat ini dengan membuka dan mengisi air ke dalam rongga-rongga itu. Proses dilakukan harus melalui kerja ekstra. Tidak hanya itu, api lahan gambut yang sudah dipadamkan juga berpotensi muncul kembali, jika tidak terus dijaga. Cara menjaganya adalah dengan membuat kanal yang bisa terus menyimpan air supaya gambut tidak kering.

"Bayangkan kalau airnya keluar, gambutnya kering. Kanalnya tidak bisa ditutup, tetapi harus terus dibuka dan diberi air. Bara apinya masih ada terus," ujar Siti.

Siti juga mengakui buruknya situasi di daerah diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Bahkan dia menganggap seperti berada di waktu kiamat.

"Saya bersama Menko Polhukam, Kapolri dan beberapa yang lain ke Sumatera. Api yang saya lihat kemarin lebih besar dari yang di Kalimantan Tengah. Saya tidak bisa melihat apa-apa kecuali asap putih, kuning dan pekat. Rasanya seperti kiamat," ucap Siti.

Sekitar empat bulan terakhir, kondisi asap di beberapa daerah semakin parah. Udara bersih di lokasi bencana asap, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Palangkaraya, dan daerah lainnya semakin menipis akibat pekatnya kabut asap.

Pemerintah memang telah menerima sumbangan beberapa negara. Di antaranya Malaysia, Singapura dan Australia. Sebelum mendapat bantuan dari luar, Indonesia sudah menggunakan 26 pesawat dengan kapasitas 36 ribu liter.

"Kita juga gunakan yang 500 liter yang lebih lincah. Sekarang yang kita pakai pesawat yang 3000 liter, Malaysia dan Australia menggunakan 6000 liter, tetapi mereka sudah kembali ke 




sumber | republished by Halo Unik !


No comments:

Post a Comment



Back to Top

Artikel Terkait Lainnya

Back to Top