Pria ini dijuluki Profesor Dumpster. Sebab ia tinggal di sebuah rumah yang dibuat dari bak sampah berwarna hijau tua yang biasa diletakkan di sudut-sudut perumahan di Amerika Serikat. Dia tinggal di dalam tempat pembuangan sampah tersebut selama setahun belakangan.
Dr. Jeff Wilson sebenarnya adalah seorang dosen ilmu lingkungan di sebuah universitas di Austin, Texas. Keputusannya untuk tinggal di tempat yang tak lazim ini merupakan bagian dari proyek Dumpster Project yang sedang dijalankannya sejak Februari tahun 2013 lalu. Dan dari sanalah julukan Profesor Dumpster yang diberikan oleh para mahasiswanya berasal. Melalui proyek tersebut Wilson berniat untuk menunjukkan bahwa setiap orang bisa saja menjalani hidup yang layak meskipun dalam kondisi ekonomi yang sulit. "Kita bisa memiliki sebuah rumah di bawah 10.000 dollar yang bisa ditempatkan di mana saja di dunia," kata Wilson.
Siapapun yang melihat tempat tinggal Wilson dari luar akan mengira kalau Ia adalah seorang gelandangan. Tetapi jika dilihat dari dalam sebenarnya bak sampah itu tampak cukup nyaman. Wilson telah menyulap bagian dalam kubus logam tersebut menjadi sebuah rumah satu kamar yang layak huni. Ada tempat tidur, rak kayu, pot tanaman, dan hiasan dinding. Kebersihannya pun terjaga.
Tadinya Wilson tinggal di sebuah apartemen yang cukup luas. Setelah sewa apartemennya habis, ia pindah ke kantornya selama tujuh bulan sambil menyiapkan rumah dari tempat sampah itu. Selama berbulan-bulan ia merahasiakan proyeknya itu dari staf kampus dan mahasiswanya.
Memang butuh waktu baginya untuk terbiasa hidup di rumah super mungil tersebut. Tetapi sekarang ia mengaku kalau Dumpster Project membawa banyak hal baik dalam hidupnya. Dengan menjalani hidup minimalis, ia tetap bisa mendapatkan kesejahteraan yang memadai. Ia jadi bisa menghabiskan lebih banyak waktu di masyarakat, berjalan-jalan dan berinteraksi dengan orang-orang. "Saya hampir merasa East Austin adalah rumah saya dan halaman belakang saya," katanya bangga.
Sekarang ia hanya memiliki empat pasang celana, empat kemeja, tiga pasang sepatu, tiga topi, dan beberapa dasi kupu-kupu. Semua harta berharga miliknya disimpan di bawah lantai buatan yang baru-baru diinstal bersama dengan peralatan memasak untuk berkemah. Lalu bagaimana jika dia butuh ke kamar m*ndi? Menurut Wilson, saat ini ia masih menggunakan fasilitas t*ilet dan kamar mandi milik kampus. Dan kadang ini cukup menyulitkan, terutama jika ia ingin buang a*r k*cil di tengah malam. Tetapi sebentar lagi ia akan memiliki t*ilet sendiri yang terintegrasi dengan rumah bak sampahnya. Selain itu panel listrik yang menjadi sumber energi rumahnya akan segera digantikan dengan panel surya yang lebih ramah lingkungan.
Bagaimana menurut Anda? Apakah rumah bak sampah seperti milik Dr. Jeff Wilson ini bisa dijadikan solusi kebutuhan rumah tinggal yang murah?






No comments:
Post a Comment