Gunung Slamet yang terletak di Jawa Tengah masih menunjukkan aktivitas yang cukup serius. Semburan abu kecokelatan yang disertai lontaran material pijar dengan tinggi 50 meter masih terjadi dari puncaknya.
Dari pantuan di Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Desa Gambuhan Kabupaten Pemalang, terekam pada pukul 00.00-06.00 Senin, 18 Agustus 2014 kemarin, telah terjadi 85 kali gemuruh dan tujuh kali dentuman dengan kategori sedang dan cukup kuat. Bila dilihat dari sisi kegempaan, tercatat sebanyak 46 kali gempa letusan.
Tak hanya itu, frekuensi letusan abu telah terdeteksi berwarna kecokelatan tinggi yang condong ke arah barat ditandai pula sebanyak 52 kali lontaran material dari gunung.
Sejarah letusan Gunung Slamet
Pada Selasa 12 Agustus 2014 sejak pukul 10.00 WIB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPTKG) Kementerian ESDM telah menetapkan status Siaga pada Gunung Slamet. Masyarakat di Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Tegal, Pemalang, dan Brebes diminta tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari puncak.
Sebagai gunung yang populer sebagai sasaran pendakian, Gunung Slamet memang memiliki medan yang cukup sulit. Sama seperti gunung api lain di Pulau Jawa, gunung ini terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa.
Berdasarkan catatan, Gunung Slamet pertama erupsi pada abad ke-19. Hingga saat ini, gunung yang statusnya Siaga ini sering mengalami erupsi meski dalam skala kecil. Pada 1999, Gunung Slamet mengalami erupsi dan kemudian erupsi terjadi lagi pada Mei hingga Juni 2009. Dari puncak gunung mengeluarkan lava pijar.
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendrasto, gunung dengan ketinggian 3.428 mdpl, sejak dulu selalu meluncurkan awan panas, aliran lava dan gas beracun.
Potensi bahaya Gunung Slamet berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) dibagi menjadi tiga zona, yaitu Kawasan Rawan Bencana III (KRB III), Kawasan Rawan Bencana II (KRB II) dan Kawasan Rawan Bencana I (KRB I).
Kawasan Rawan Bencana III adalah kawasan yang selalu berpotensi terancam aliran lava, gas racun, awan panas serta selalu terancam lontaran batu (pijar), dan hujan abu lebat dalam radius 2 km dari puncak.
Kawasan Rawan Bencana II merupakan wilayah yang berpotensi terlanda aliran lava, gas racun, awan panas serta berpotensi terancam lontaran batu (pijar), dan hujan abu lebat dalam radius 4 km dari puncak.
Sementara Kawasan Rawan Bencana I merupakan wilayah yang berpotensi terlanda aliran lahar hujan, berpotensi terhadap hujan abu lebat serta kemungkinan dapat terkena lontaran batu (pijar) dalam radius 8 km dari puncak.
Meski begitu, saat ini yang perlu diwaspadai adalah gempa yang muncul setelah statusnya naik. Pergerakan aktifitas terjadi di kawah IV yang merupakan kawah terakhir yang masih aktif dan terus dipantau.
Peningkatan kegiatan itu ditandai oleh peningkatan jumlah gempa hembusan dan semakin tebal serta tinggi asap hembusan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi akan meningkatkan pemantauan secara intensif guna melakukan evaluasi kegiatan Gunung Slamet dan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah setempat.

