Surat Terbuka Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta untuk Siswa-Siswi Indonesia




Salam sejahtera untuk kita semua.

Perkenalkan, saya Dra. Ni Ketut Diah Chaerani, M.M. Saat ini saya menjabat sebagai Kepala Sekolah SMAN 3 Setiabudi, Jakarta. Mungkin ini adalah tulisan pertama saya di Kaskus karena sebelumnya saya tidak terlalu aktif di media sosial. Desakan untuk menulis Surat Terbuka untuk Murid-Murid Indonesia ini datang justru dari siswa-siswi saya serta para orangtua. Saya dianggap telah lalai menjalankan tanggung jawab sebagai kepala sekolah yang seharusnya melindungi kehidupan siswa-siswi serta mengarahkan mereka menuju masa depan yang gemilang.

Saya harus mengakui bahwa meninggalnya dua siswa saya, Arfiand Caesar Al Irhami dan Padian (keduanya siswa kelas X) merupakan pukulan telak bagi SMAN 3 dan bagi pendidikan Indonesia. Sekolah yang seharusnya memberikan pendidikan penuh kasih menjadi momok yang mengerikan akibat sebuah kegiatan ekstrakurikuler.

Saya tidak menulis tulisan ini untuk membela diri. Saya mengakui bahwa di bawah kepemimpinan saya, masih banyak hal yang harus diperbaiki. Karena itulah, dengan penuh kerendahan hati, saya mengajak siswa-siswa SMAN 3 dan siswa-siswi, anak-anakku, di seluruh tanah air, untuk segera mengakhiri mata rantai kekerasan di sekolah. Sekolah adalah tempat yang menjadikan kalian manusiawi. Tidak seharusnya kekerasan menjadi "menu wajib" untuk membuat kalian terlihat kuat dan hebat.

Urgensi untuk mengembalikan sekolah ke fitrahnya merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama. Saya selaku kepala sekolah telah mencanangkan Gerakan Sekolah Bersih, yakni sebuah usulan agar seluruh guru dan kepala sekolah menyadari potensi bahaya kekerasan di sekolah mereka masing-masing. Saya berharap langkah kecil ini bisa bermanfaat besar dalam menyelamatkan kehidupan siswa-siswi Indonesia.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengimbau seluruh siswa-siswi SMAN 3 dan seluruh siswa-siswi Indonesia untuk hidup dalam pusaran positif dan konstruktif. Apabila kalian merasa ada hal yang harus diselesaikan di sekolah dan di manapun, selesaikanlah secara baik-baik dengan menunjukkan bahwa kalian adalah makhluk yang berbudaya.

Saya mengambil sebuah contoh yang menyentak pikiran saya. Tiga hari lalu, sepucuk surat beserta sebuah buku berjudul Tiga Tahun dari Sekarang sampai di meja kerja saya.

Saya membaca surat tiga lembar tersebut dan rasanya bangga sekali masih ada seorang murid Indonesia yang berani bersuara dengan manusiawi, elegan, dan demokratis. Alangkah indahnya, saya berpikir dalam hati, apabila semua siswa-siswi SMAN 3 bisa meniru cara pengirim surat ini dalam bersikap.

Isi surat tersebut adalah s.b.b:

Kepada,
Yth. Ibu Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta
di tempat

Ibu Diah Chaerani yang baik,

Saya mengenang masa SMA sebagai masa yang penuh warna, lika-liku, dan perjuangan yang berujung pada kepuasan seumur hidup. Saya kemudian memperoleh beasiswa masuk universitas dan mempelajari Ilmu Komunikasi selama empat tahun sampai akhirnya lulus sebagai lulusan terbaik dengan predikat magna cum laude. Saya pun memperoleh pekerjaan yang sangat menjanjikan di usia saya yang ke-24 sekarang. Bila menyangkut kualitas hidup, saya merasa sangat bahagia dan diberkati.

Tetapi, ada sisi lain di dalam diri saya yang selalu gelisah. Kata-kata, “Apa yang sudah kamu sumbangkan?” dan “Apa yang sudah kamu wariskan untuk murid generasi selanjutnya meskipun esok kamu sudah tiada?” cukup mengusik saya.

Tentu saja, saya sudah bertatap muka dengan ratusan murid Indonesia dan berdialog langsung. Saya sudah pula berbicara di hadapan ribuan orang dari berbagai institusi, mencoba membagi inspirasi serta menyerukan pentingnya memiliki sikap yang benar dalam menjalani masa-masa sekolah.

Saya pun berkali-kali menjadi narasumber di radio untuk menyapa langsung puluhan ribu pendengar yang merasa perlu sebaris motivasi dan solusi nyata terkait dunia pendidikan. Namun, hal ini belum benar-benar membuat saya merasa sudah melakukan sesuatu.

Delapan tahun lalu, saat saya berusia 16 tahun, saya bersumpah kepada diri sendiri untuk menjadi sebuah suara lantang yang melawan segala jenis ketidakadilan, senioritas yang menyesatkan serta pembodohan di dunia sekolah. Saya hendak memperjuangkan hak-hak murid dan memberdayakan mereka menjadi sosok penting yang berpotensi mengubah wajah bangsa Indonesia. Sampai hari ini, niat tersebut tidak sedikitpun luntur.

Surat ini saya kirimkan kepada 149 orang selain Anda, 151 orang termasuk kita. Saya yakin bahwa surat ini akan mengubah kehidupan Anda, mengubah sekolah di mana Anda berkarya, dan mengubah murid-murid Anda.

Izinkan saya memperlihatkan Anda latar belakangnya.

Hari ini, di tahun 2014, sekolah tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi murid-murid Indonesia. Di bangku TK, anak-anak tak berdosa menjadi korban sodomi. Di bangku SD, perselisihan sepele antarmurid menyebabkan kehilangan nyawa. Di bangku SMP, buruknya perangai guru menyebabkan kekerasan terhadap murid. Kerusakan moral mulai terjadi dengan tersebarnya video porno yang direkam di ruang kelas, yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu.

Di bangku SMA, kurangnya pengetahuan murid menyebabkan mereka mudah dilecehkan secara fisik dan mental oleh gurunya. Cobalah Anda meluangkan 5—10 menit untuk membaca media massa setahun terakhir ini dan melihat lagi kasus-kasus di sekolah yang membuat hati bergidik.

Para murid yang menjadi korban ketidakadilan semacam ini telah dikecewakan oleh takdir. Bila beruntung, mereka bisa bangkit dan kembali mendapatkan hidupnya. Bila tidak, mereka akan hidup dalam trauma dan ketakutan yang luar biasa. Keadaan semacam ini adalah konsekuensi dari pendidikan formal yang mereka dapatkan dari sebuah tempat indah bernama sekolah.

Sungguh tidak adil bagi murid yang pernah mengalami pengalaman buruk di sekolah. Mereka seharusnya sama saja dengan murid-murid masa lalu yang kini sudah menduduki posisi puncak di berbagai organisasi. Mereka juga seharusnya sama dengan murid-murid generasi lalu yang kini berperan sentral membuat kebijakan di pemerintahan. Mereka seharusnya pun tak kalah ganteng dan cantiknya dari para pesohor yang kini tengah naik daun namanya.

Berikanlah mereka pendidikan yang baik selama 12 tahun ditambah beberapa tahun di perguruan tinggi, maka mereka akan membangun daerah mereka masing-masing dan menjadi aktor penting di balik majunya sebuah peradaban. Mungkin seorang dokter akan lahir dari mereka, mungkin seorang arsitek akan mengubah wajah kota, atau mungkin salah satu dari mereka akan menjadi pengacara handal yang bekerja membela kebenaran dengan hati nurani.

Apapun itu, mereka perlu terlebih dahulu menjalani hidup dan proses belajar yang baik, benar, dan manusiawi di sekolah. Pertanyaannya: sudah baikkah sekolah kita? Sudah benarkah sekolah kita? Sudah manusiawikah sekolah kita?

Sampailah kita pada inti surat ini.

Daripada berteriak satu kali dan hanya membuat gema selama tiga detik, saya memilih menulis buku untuk merekam perjuangan saya. Saya berkarya dalam keabadian dan bersyukur karena dapat terus bergaung menjangkau murid-murid Indonesia sekalipun saya telah tiada. Buku pertama saya yang berjudul Pesan dari Murid untuk Guru: Siapapun Bisa Melakukan Kesalahan mendapatkan sambutan yang sangat negatif dari pihak sekolah dan hidup saya setelahnya bertambah berat. Buku tersebut terbit ketika saya berusia 17 tahun.

Ratusan surat elektronik dari berbagai penjuru, mulai dari Jakarta, Magelang, Surabaya, Malaysia, Australia, Jerman, Kanada, sampai Amerika Serikat masuk ke kotak surat saya. Sebagian besar menghujat dan mengancam saya karena saya mengatakan sesuatu apa adanya.

Singkat cerita, saya tidak gentar sedikitpun dan kembali merekam pandangan saya yang kokoh tanpa kompromi terhadap segala bentuk ketidakadilan, apalagi kekerasan, di sekolah. Buku kedua saya, Tiga Tahun dari Sekarang, yang mungkin sedang ada di genggaman Anda sekarang, membuat saya merasa telah menemukan tempat untuk melakukan sesuatu bagi murid-murid Indonesia.

Saya tidak menuliskan surat ini untuk menjual buku. Jikapun demikian adanya, saya hanya akan mendapatkan untung bersih empat ribu rupiah; tidak ada artinya dibandingkan uang yang harus saya keluarkan untuk mencetak surat ini, membeli amplop, membeli satu eksemplar buku, dan ongkos kirim sehingga bisa mencapai Anda. Saya menuliskan surat ini karena saya peduli terhadap murid-murid Indonesia, baik yang masih kecil maupun yang tengah beranjak dewasa.

Saya setuju untuk menjadikan profesi penulis sebagai panggilan dan kesempatan untuk berkontribusi. Karenanya, saya tidak pernah keberatan menyisihkan waktu bagi komunitas pecinta pendidikan, organisasi guru, sekolah, dan murid-murid yang merasa perlu berdiskusi dengan saya seputar sikap, sudut pandang, ide, dan solusi dalam membuat kehidupan di sekolah menyenangkan.

Sekolah yang mengajarkan kebaikan, kebenaran, semangat antikekerasan, dan menjunjung penghormatan terhadap martabat manusia adalah sekolah yang langka di negara kita. Tetapi, bukan berarti tidak mungkin untuk mewujudkannya. Sekolah semacam ini adalah pabrik bagi bahan mentah yang boleh jadi menghasilkan sosok sekaliber Ki Hajar Dewantara di masa depan.

Inilah penawaran saya kepada Anda.

Izinkan saya untuk berbagi pandangan serta langkah nyata yang mudah dan sederhana dalam membuat perubahan positif di sekolah. Bacalah buku ini dan temukanlah bahwa kita perlu mendefinisikan ulang makna sekolah dan berbagai dinamikanya. Janganlah ragu untuk berbicara langsung dengan saya apabila Anda merasa kita satu visi.

Bantulah saya menyebarkan pesan moral dalam buku ini kepada murid-murid Anda. Izinkan saya menginjakkan kaki di sekolah Anda apabila Anda merasa kita dapat merapatkan barisan dan bangkit melawan kebodohan, kekerasan, dan ketidakadilan di ruang-ruang kelas bersama-sama.

Anda cukup mengirimkan SMS kepada saya bahwa Anda setuju mendukung niat saya dalam membuat murid-murid berpikir dan bersikap kritis, namun tidak kehilangan kerendahan hati dan bisa diajak berdialog. Apabila saya, dan ketika saya, berhasil mendapatkan dukungan dari 149 kepala sekolah lainnya, berjanjilah bahwa Anda tidak akan ragu mendukung murid-murid Anda untuk berkarya nyata dan bangkit serta terbang tinggi sebagaimana yang saya sampaikan dalam Tiga Tahun dari Sekarang.

Apabila hal terbaik yang pernah Anda lakukan ketika selesai membaca buku adalah mempraktikkan isinya, saya berjanji bahwa buku ini dapat memenuhi standar baik Anda. Apabila Anda bersedia membagikan pesan positifnya, saya berjanji bahwa inilah hal terbaik yang Anda lakukan tanpa mengeluarkan satu peserpun.

Sebagian besar kegiatan dan karya kita akan terhenti tatkala kita mati, namun di bidang pendidikan, justru hal yang mengagumkan terjadi dengan begitu fantastis. Semangat pengajaran yang terwujud dalam kebaikan dan kebenaran tidak pernah mati. Dengan menyebarkan pesan moral dalam Tiga Tahun dari Sekarang, setiap murid Anda akan mendapati jejak pengetahuan dan kerendahan hati Anda dalam diri mereka masing-masing.

Buku ini bukanlah yang terbaik di kategorinya dan mustahil untuk bisa mengubah sekolah dan pendidikan dalam semalam. Surat ini pun panjang, dan saya bisa saja mengirimkan 150 surat semacam ini kepada media massa dan mendapatkan publikasi. Jadi, ingatlah bahwa surat ini sangat khusus saya tulis untuk mengajak Anda secara personal untuk bersama-sama membangun pendidikan Indonesia yang kuat dan berkarakter.

Kebanyakan surat semacam ini ditulis untuk tujuan mendapatkan uang bagi pengirimnya, tetapi surat ini jauh lebih menyulitkan saya secara moral daripada apa yang Anda alami karenanya.

Jadi, siapkah Anda menghadapi murid-murid yang berani, kritis, dan lapar pengetahuan?


Hormat Saya,
William, S.I.Kom.

www.facebook.com/tigatahundarisekarang

Saya tidak mengatakan bahwa Saudara William adalah yang paling baik atau paling benar. Yang ingin saya katakan adalah semangat dalam diri Saudara merupakan oase di tengah padang pasir. Semoga sosok seperti Saudara selalu hadir di tengah degradasi moral dan kekerasan yang menggurita di dunia pendidikan Indonesia.

Untuk siswa-siswiku di SMAN 3, teladanilah keberanian dan kecerdasan yang ditunjukkan Saudara William. Jadilah pribadi-pribadi yang memiliki sikap dan akhlak mulia. Jauhkanlah diri dari kekerasan, apapun bentuknya. Semoga Allah SWT memberkahi kita semua.


sumber | digali.blogspot.com




Back to Top

Artikel Terkait Lainnya

Back to Top