Tuberculosis merupakan infeksi yang bisa menghancurkan jaringan paru-paru dan menyebabkan pasien batuk sambil mengeluarkan bakteri dan menyebar melalui udara sehingga terhirup oleh orang lain. Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat resistensi terhadap obat TB telah menyebar dengan cepat di seluruh dunia sehingga menimbulkan kekhawatiran tersendiri dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan pengobatan baru yang lebih efektif.
Jumlah penderita TBC sangat banyak di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 429.000 orangpenderita TBC. Mirisnya mayoritas menyerang usia produktif. Menurut WHO, jumlah penderita TBC yang melimpah ini membuat Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita TBC terbanyak no 5 di dunia.
Menyeramkan bukan? oleh karena itu kita harus segera musnahkan penyakit ini dari dunia termasuk Indonesia. Caranya? Tingkatkan daya tahan tubuh agar tidak tertular TBC dan penderita TBC harus diobati hingga sembuh..
Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap TBC bisa dengan memperbaiki kualitas makanan, yakni dengan rutin memakan makanan tinggi protein, seperti telur, daging, tempe, tahu, ikan, dan lainh-lain. Protein yang tinggi berguna untuk menguatkan sel pertahanan tubuh kita sehingga kuat menghadapi kuman TBC. Selain tips mengenai sinar matahari yang saya jabarkan diatas, makan makanan kaya protein juga merupakan HAL PALING PENTING untuk mencegah TBC. Meningkatkan daya tahan tubuh bisa juga dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan positif yang sehat, seperti cukup tidur, tidak stres, selalu bahagia, rajin olahraga, dan lain-lain.
Pengobatan yang teratur bagi penderita TBC juga sangat penting. Bila minum obatnya tidak teratur, kuman bisa kebal dan tahan pada obat. Bila kuman sudah kebal pada obat, terapi harus diperpanjang lebih dari 6 bulan hingga seluruh kuman mati. Bila TBC tidak diobati, dalam 5 tahun 50% penderita akan meninggal, 25% yang lain akan makin parah dan menyebarkan TBC ke orang-orang disekitarnya.
Mari kita musnahkan TBC dari muka bumi, mulai dari diri sendiri dengan meningkatkan daya tahan tubuh kita.
Quote:Sinar matahari mengobati TBC! (Sunlight helps to cure TB)
Sinar matahari vs Tuberculosis (TB)
Sinar matahari diketahui membantu tubuh membentuk vitamin D yang baik untuk kesehatan. Kini peneliti mendapatkan manfaat lain dari sinar matahari ini yaitu membantu percepatan penyembuhan TB dan bahkan mencegah penularan TB.
Para ilmuwan telah menunjukkan bagaimana dan mengapa vitamin D dengan bantuan sinar matahari dapat mempercepat pemulihan dari pasien dengan tuberculosis. Hal ini turut membantu menjelaskan pengobatan heliotherapy pada zaman dulu sebelum ada antibiotik.
Pada akhir 1800-an yang mana pengembangan antibiotik belum ada, pasien tuberculosis sering dikirim ke tempat yang mana pasien didorong untuk menyerap sinar matahari atau biasa dikenal dengan heliotherapy atau phototherapy.
Sebuah studi yang dipimpin oleh peneliti Inggris telah menemukan bahwa dosis tinggi dari vitamin D yang dibuat dalam tubuh saat terkena sinar matahari bersama dengan pengobatan antibiotik mampu membantu pasien pulih lebih cepat dari penyakit paru-paru yang menular ini.
"Temuan menunjukkan dosis dari vitamin ini mampu meredam respons inflamasi tubuh terhadap infeksi, mengurangi kerusakan pada paru-paru," ujar Adrian Martineu yang memimpin penelitian sekaligus dosen senior untuk infeksi pernapasan dan kekebalan di Queen Mary University of London, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (4/9/2012). Martineu menuturkan terkadang respons inflamasi bisa menyebabkan kerusakan jaringan yang mengarah ke rongga di paru-paru. Untuk itu jika bisa membantu rongga paru menyembuhkan lebih cepat, maka kerusakan paru-paru jadi lebih sedikit.
Peneliti menemukan sejumlah besar penanda inflamasi turun lebih cepat pada pasien yang menerima vitamin D, serta Mycobacterium tuberculosis yang merupakan bakteri penyebab TB dibersihkan lebih cepat dari dahak batuk di dalam paru-paru. Para peneliti juga mengatakan kemampuan vitamin D untuk meredam respons inflamasi ini tanpa mengganggu aksi antibiotik di dalam tubuh.
Bahkan sinar matahari tidak hanya membantu pembentukan vitamin D sehingga secara tidak langsung membantu para penderita TB, tapi sinar matahari juga membantu penularan penyakit TB, kenapa? Sederhana, karena kuman TB akan mati dengan sendirinya setelah terkena sinar matahari, sehingga sangat dianjurkan bagi kita sebagai tenaga kesehatan atau keluarga pasien TB untuk memastikan ruangan praktek atau rumah kita mendapat sinar matahari yang cukup, menjemur kasur dan peralatan pribadi lain dari penderita TB di bawah sinar matahari, dan apabila batuk apabila tidak sempat membuang dahak pada tempatnya seperti WC atau wastafel, minimal pastikan anda membuang di tempat yang jauh dari keramaian dan terkena terik matahari.
Quote:F A Q
Quote:Pertanyaan Seputar TBC
Apakah tanda-tanda bahwa seseorang terkena penyakit TBC?
Tanda-tanda orang yang dicurigai
terkena penyakit TBC yaitu secara umum dapat dilihat dari gejalanya
terlebih dahulu yaitu, demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama,
biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang
serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. Penurunan
nafsu makan dan berat badan. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu
(dapat disertai dengan darah). Perasaan tidak enak (malaise), lemah. Dan
untuk memberikan kepastian maka orang tersebut harus diperiksa lebih
lanjut, jadi tidak selalu bahwa orang batuk-batuk lama pasti menderita
TBC, harus dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen.
Apakah setiap orang yang mengalami batuk berdarah berarti menderita TBC?
Belum tentu, karena batuk berdarah dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab, bisa karena penyakit paru-paru lainnya, karena adanya perdarahan di daerah hidung bagian belakang yang tertelan dan pada saat batuk keluar dari mulut atau karena anak batuk terlalu keras sehingga menyebabkan lukanya saluran nafas sehingga mengeluarkan darah.
Apakah setiap orang yang mengalami batuk berdarah berarti menderita TBC?
Belum tentu, karena batuk berdarah dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab, bisa karena penyakit paru-paru lainnya, karena adanya perdarahan di daerah hidung bagian belakang yang tertelan dan pada saat batuk keluar dari mulut atau karena anak batuk terlalu keras sehingga menyebabkan lukanya saluran nafas sehingga mengeluarkan darah.
TBC menular melalui media apa saja? Dan rata-rata berapa lama gejala timbul setelah orang terpapar kuman TBC?
Pada umumnya adalah melalui percikan
dahak penderita yang keluar saat batuk (beberapa ahli mengatakan bahwa
air ludah juga bisa menjadi media perantara), bisa juga melalui debu,
alat makan/minum yang mengandung kuman TBC. Kuman yang masuk dalam tubuh
akan berkembangbiak, lamanya dari terkumpulnya kuman sampai timbulnya
gejala penyakit dapat berbulan-bulan sampai tahunan.
Apakah kena udara pagi terus menerus dan merokok dapat menyebabkan TBC?
Kena udara pagi terus menerus tidak
terlalu bermasalah dalam hal penularan TBC, sedangkan merokok dapat
menurunkan daya tahan dari paru-paru, sehingga relatif akan mempermudah
terkena TBC.
Apakah penyakit TBC itu diwariskan secara genetik?
Penyakit TBC tidak diwariskan secara
genetik, karena penyakit TBC bukanlah penyakit turunan. Hanya karena
penularannya adalah melalui percikan dahak yang mengandung kuman TBC,
maka orang yang hidup dekat dengan penderita TBC dapat tertular.
Mengapa pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama?
Karena bakteri TBC dapat hidup
berbulan-bulan walaupun sudah terkena antibiotika (bakteri TBC memiliki
daya tahan yang kuat), sehingga pengobatan TBC memerlukan waktu antara 6
sampai 9 bulan. Walaupun gejala penyakit TBC sudah hilang, pengobatan
tetap harus dilakukan sampai tuntas, karena bakteri TBC sebenarnya masih
berada dalam keadaan aktif dan siap membentuk resistensi terhadap obat.
Kombinasi beberapa obat TBC diperlukan karena untuk menghadapi kuman
TBC yang berada dalam berbagai stadium dan fase pertumbuhan yang cepat.
Bagaimana bila penderita TBC tidak mengkonsumsi obat secara teratur?
Hal ini akan menyebabkan tidak
tuntasnya penyembuhan, sehingga dikhawatirkan akan timbul resistensi
bakteri TBC terhadap antibiotika sehingga pengobatan akan semakin sulit
dan mahal.
Bisakah penyakit TBC disembuhkan secara tuntas? Bagaimana caranya?
Penyakit TBC bisa disembuhkan secara
tuntas apabila penderita mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk minum
obat secara teratur dan rutin sesuai dengan dosis yang dianjurkan, serta
mengkonsumsi makanan yang bergizi cukup untuk meningkatkan daya tahan
tubuhnya.
Apakah orang yang telah sembuh dari penyakit TBC dapat terjangkit kembali?
Dapat, karena setelah sembuh dari
penyakit TBC tidak ada kekebalan seumur hidup. Jadi bila telah sembuh
dari penyakit TBC kemudian tertular kembali oleh kuman TBC, maka orang
tersebut dapat terjangkit kembali.
Apakah flek kecil di paru-paru pada anak balita sudah dapat dikatakan TBC?
Flek kecil di paru-paru balita pada
umumnya memang disebabkan oleh TBC. Oleh karena itu perlu diteliti
apakah ada gejala-gejala klinis penyakit TBC atau tidak. Bila tidak ada
berarti pernah tertular penyakit TBC tapi karena daya tahan tubuhnya
tinggi sehingga tidak bergejala. Atau saat ini anak tersebut sudah
sembuh dari penyakit TBC dan hanya meninggalkan bekasnya saja di
paru-paru.
Mungkinkah terkena penyakit TBC bila kita hidup di lingkungan yang bersih?
Kemungkinan kita tertular akan tetap
ada, karena kita hidup tidak hanya di lingkungan sekitar rumah kita
saja, bisa saja suatu saat kita berada di sekolahan, bioskop, kantor,
bus yang belum tentu terbebas dari kuman TBC. Hidup di lingkungan yang
bersih memang akan memperkecil risiko terjangkit TBC.
Bagaimana efek terhadap janin bila ibu hamil sedang mengidap penyakit TBC?
Biasanya keadaan gizi penderita TBC
kurang baik, sehingga hal ini dapat mempengaruhi perkembangan bagi janin
dalam kandungan. Ibu hamil tetap harus diberikan terapi dengan obat TBC
dengan dosis efektif terendah. Obat TBC yang diminum oleh ibu dapat
melewati plasenta dan masuk ke janin dan berdasarkan beberapa
kepustakaan disebutkan tidak memberikan efek yang terlampau berbahaya,
akan tetapi pemantauan ketat pada perkembangan janin harus tetap
dilakukan. Setelah bayi dilahirkan dapat dipisahkan terlebih dahulu dari
ibu selama TBC masih aktif.
Bagaimana sikap kita bila di rumah terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit TBC?
Bawa pasien ke dokter untuk
mendapatkan pengobatan secara teratur, awasi minum obat secara ketat dan
beri makanan bergizi. Sirkulasi udara dan sinar matahari di rumah harus
baik. Hindarkan kontak dengan percikan batuk penderita, jangan
menggunakan alat-alat makan/minum/mandi bersamaan.
Pola hidup bagaimana yang harus kita miliki agar terhindar dari penyakit TBC?
Pola hidup sehat adalah kuncinya,
karena kita tidak tahu kapan kita bisa terpapar dengan kuman TBC. Dengan
pola hidup sehat maka daya tahan tubuh kita diharapkan cukup untuk
memberikan perlindungan, sehingga walaupun kita terpapar dengan kuman
TBC tidak akan timbul gejala. Pola hidup sehat adalah dengan
mengkonsumsi makanan yang bergizi, selalu menjaga kebersihan diri dan
lingkungan hidup kita, rumah harus mendapatkan sinar matahari yang cukup
(tidak lembab), dll. Selain itu hindari terkena percikan batuk dari
penderita TBC.
Quote:Tanya-Jawab Mengenai TB pada Anak
Apakah TB berbahaya?
TB pada anak umumnya tidak berbahaya,
namun dapat memengaruhi pertumbuhan mereka. Pada kasus yang jarang,
anak-anak yang berusia di bawah 4 tahun dapat mengembangkan infeksi TB
yang menyebar ke seluruh tubuh sehingga membahayakan jiwa. Anak yang
lebih besar (usia 13-14 tahun ke atas) bisa mengembangkan infeksi TB
dewasa yang merusak paru dan menular ke orang lain.
Apakah imunisasi BCG aman?
Keamanan suatu vaksin telah
dipertimbangkan dengan sangat hati-hati oleh Pemerintah dan penyedia
layanan kesehatan. Apabila suatu vaksin direkomendasikan untuk
diberikan, berarti risiko bahayanya dianggap jauh lebih kecil
dibandingkan risiko bahaya apabila vaksin tidak diberikan.
Tidak ada intervensi medis, termasuk vaksin, yang dijamin 100% aman untuk semua orang. Vaksin BCG (Bacille Calmette-Guerin) mengandung strain lemah bakteri TB yang mendorong tubuh anak untuk melawan TB bila terinfeksi dan membangun kekebalan. BCG dapat memiliki efek samping seperti abses (nanah) di tempat suntikan dan pembengkakan kelenjar getah bening, tetapi jarang yang fatal. BCG bisa berbahaya bila diberikan kepada anak dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.
Tidak ada intervensi medis, termasuk vaksin, yang dijamin 100% aman untuk semua orang. Vaksin BCG (Bacille Calmette-Guerin) mengandung strain lemah bakteri TB yang mendorong tubuh anak untuk melawan TB bila terinfeksi dan membangun kekebalan. BCG dapat memiliki efek samping seperti abses (nanah) di tempat suntikan dan pembengkakan kelenjar getah bening, tetapi jarang yang fatal. BCG bisa berbahaya bila diberikan kepada anak dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.
Setelah imunisasi BCG, apakah anak dijamin aman dari TB?
Tidak ada vaksin yang memberi jaminan
100% perlindungan dari infeksi. BCG diperkirakan 80% efektif untuk
melindungi anak dari infeksi selama maksimal 15 tahun. Artinya, 2 dari
10 anak yang diimunisasi BCG akan tetap terkena penyakit bila
terinfeksi. Efektivitas BCG menurun di tempat-tempat di mana infeksi TB
lebih umum.
Karena tidak ada jaminan bahwa anak yang telah diimunisasi BCG tidak mungkin memiliki TB, sebaiknya anak segera menemui dokter dan mendapatkan didiagnosis sedini mungkin apabila memiliki tanda-tanda infeksi TB.
Karena tidak ada jaminan bahwa anak yang telah diimunisasi BCG tidak mungkin memiliki TB, sebaiknya anak segera menemui dokter dan mendapatkan didiagnosis sedini mungkin apabila memiliki tanda-tanda infeksi TB.
Hasil ronsen paru negatif, anak saya juga kelihatannya sehat, tapi kenapa dokter memberikan obat TB?
Obat TB yang diberikan dokter untuk
kasus tersebut adalah obat pencegahan (profilaksis). Dokter menilai anak
Anda terinfeksi TB, tetapi tubuhnya mampu mengatasi sehingga tidak
timbul gejala. Kondisi ini disebut TB laten. Anak-anak diberi obat
pencegahan karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang
sehingga lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit TB dibandingkan
orang dewasa.
Anak saya disarankan dokter untuk tes Mantoux, apakah aman?
Tes Mantoux diberikan melalui injeksi
kulit di area terbatas (6-10 mm) pada lengan. Respon di kulit berupa
bentol merah (eritema) dan bintik-bintik (indurasi) yang terbentuk dalam
2-3 hari biasanya akan menghilang dalam beberapa hari. Untuk
menghindari infeksi, usahakan area itu dijaga kebersihannya dan tidak
digaruk. Pada kasus yang sangat jarang, pemberian tes Mantoux dapat
memicu respon alergi parah yang disebut anafilaksis.
Apakah tes Mantoux adalah patokan utama?
Tes Mantoux adalah tes yang penting
untuk diagnosis TB pada anak, tetapi hasilnya harus ditafsirkan dengan
hati-hati. Diagnosis TB tidak hanya dinilai dari hasil tes Mantoux saja,
tapi dikaitkan dengan temuan lain dari riwayat kesehatan, risiko kontak
dengan penderita TB dewasa, pemeriksaan fisik dan hasil ronsen.
Indikasi positif TB lebih kuat bila hasil Mantoux >15mm. Namun,
meskipun respon Mantoux hanya >5 mm apabila disertai pembesaran
kelenjar limfa (benjolan yang teraba di leher, biasanya bergerombol
berdekatan) atau flek yang konsisten pada hasil ronsen maka dapat
dinilai positif juga. Sebaliknya, hasil Mantoux >10 mm belum tentu
menunjukkan positif apabila hal-ahl lain tidak mendukung. Beberapa orang
bereaksi terhadap Mantoux meskipun mereka tidak terinfeksi M.
tuberculosis. Penyebab reaksi positif palsu ini antara lain adalah
infeksi bakteri non-TB atau vaksinasi BCG sebelumnya.
Tes Mantoux juga bisa negatif palsu (memberi hasil negatif, padahal sebenarnya positif) apabila anak memiliki anergi kulit (ketidakmampuan untuk bereaksi terhadap tes kulit karena sistem kekebalan tubuh yang lemah), infeksi TB baru (periode 8-10 minggu setelah paparan), atau berusia muda (kurang dari enam bulan). Anak-anak yang kurang gizi seringkali memberikan hasil negatif palsu.
Tes Mantoux juga bisa negatif palsu (memberi hasil negatif, padahal sebenarnya positif) apabila anak memiliki anergi kulit (ketidakmampuan untuk bereaksi terhadap tes kulit karena sistem kekebalan tubuh yang lemah), infeksi TB baru (periode 8-10 minggu setelah paparan), atau berusia muda (kurang dari enam bulan). Anak-anak yang kurang gizi seringkali memberikan hasil negatif palsu.
Apakah ada obat alernatif/alami untuk TB?
Tidak ada obat untuk TB selain obat
primer/lini pertama yaitu INH (Isoniazid), Rifampisin, Pirazinamid,
Etambutol dan Streptomisin dan beberapa obat sekunder (lini kedua). Gizi
yang baik dan cara hidup sehat membantu pengobatan, namun tidak
menggantikannya. Anak Anda perlu mengambil obat yang diresepkan dokter
sampai tuntas. Obat anti TB efektif dan aman untuk membunuh semua
bakteri TB apabila diambil sesuai petunjuk dokter.
Tempat infeksi :
Disebut TB paru adalah bila penyakit
mengenai parenkim paru. TB ekstra paru adalah TB tanpa kelainan
radiologist di parenkim paru. Termasuk di dalam kelompok ini TB kelenjar
getah bening (mediastinum dan/atau hilus) atau TB dengan efusi pleora.
Pasien dengan TB paru dan ekstra paru didaftarkan sebagai kasus TB paru.
TB ekstra paru di beberapa tempat didefinisikan berdasarkan kelainan
yang paling berat.
Beratnya penyakit :
Banyaknya bakteri, luasnya lesi dan
lokasi anatomis menentukan beratnya penyakit dan pendekatan pengobatan.
Dianggap kasus berat bila penyakit tersebut mengancam jiwa (misalnya TB
perikardium) atau adanya resiko gejala sisa yang serius (misalnya TB
medulla spinalis) atau keduanya.
TB ekstrapulmoler berikut ini dianggap berat: meningitis TB, TB miliaris, perikarditis, peritonitis, efusi pleura bilateral atau luas, medula spinalis, saluran kemih.
TB berikut ini dianggap kurang berat : kelenjar getah bening, efusi pleura unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi perifer, kulit.
TB ekstrapulmoler berikut ini dianggap berat: meningitis TB, TB miliaris, perikarditis, peritonitis, efusi pleura bilateral atau luas, medula spinalis, saluran kemih.
TB berikut ini dianggap kurang berat : kelenjar getah bening, efusi pleura unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi perifer, kulit.
Bakteriologi:
Sputum BTA positif, bila :
Dua kali pemeriksaan menunjukkan
hasil BTA positif, atau satu kali pemeriksaan dengan hasil BTA positif
dan hasil pemeriksaan radiologist sesuai dengan TB paru, atau satu kali
sputum BTA positif dan hasil kultur positif.
Sputum BTA negatif, bila :
Dua kali pemeriksaan dengan jarak 2
minggu dengan hasil BTA negative. Pemeriksaan radiologis sesuai dengan
TB paru dan gejala klinis tidak hilang dengan pemberian antibiotik
spektrum luas selama satu minggu dan dokter memutuskan untuk mengobati
dengan pengobatan regimen anti TB secara penuh.
Riwayat pengobatan sebelumnya :
Penting diketahui apakah sebelum ini pasien sudah mendapat pengobatan anti TB atau belum, dengan alasan :
- identifikasi pasien dengan resiko resistensi dan pemilihan obat yang tepat.
- Epidemiologi.
kasus baru : pasien yang belum pernah mendapat anti TB atau mendapat anti TB selama kurang dari 4 minggu.
Relaps : pasien yang sudah dinyatakan sembuh setelah menyelesaikan regimen pengobatan, tapi BTA sputum kembali positif.
Kasus gagal : pasien yang tetap BTA positif atau menjadi positif lagi setelah pengobatan selama 5 bulan. Termasuk juga pasien dengan BTA negative pada awal pengobatan, tapi menjadi positif setelah bulan kedua pengobatan.
Pengobatan terputus : pasien yang terputus berobat selama 2 bulan atau lebih dan kembali dengan keadaan BTA positif (kadang-kadang BTA negative tapi pemeriksaan radiologi memberikan kesan TB aktif).
Kasus kronik asien dengan BTA tetap positif atau menjadi positif atau menjadi positif lagi setelah menjalani pengobatan ulang dibawah pengawasan.
- identifikasi pasien dengan resiko resistensi dan pemilihan obat yang tepat.
- Epidemiologi.
kasus baru : pasien yang belum pernah mendapat anti TB atau mendapat anti TB selama kurang dari 4 minggu.
Relaps : pasien yang sudah dinyatakan sembuh setelah menyelesaikan regimen pengobatan, tapi BTA sputum kembali positif.
Kasus gagal : pasien yang tetap BTA positif atau menjadi positif lagi setelah pengobatan selama 5 bulan. Termasuk juga pasien dengan BTA negative pada awal pengobatan, tapi menjadi positif setelah bulan kedua pengobatan.
Pengobatan terputus : pasien yang terputus berobat selama 2 bulan atau lebih dan kembali dengan keadaan BTA positif (kadang-kadang BTA negative tapi pemeriksaan radiologi memberikan kesan TB aktif).
Kasus kronik asien dengan BTA tetap positif atau menjadi positif atau menjadi positif lagi setelah menjalani pengobatan ulang dibawah pengawasan.
Prinsip pengobatan
Regimen pengobatan terdiri dari fase awal (intensif) selama 2 bulan dan fase lanjutan selama 4-6 bulan.
Selama fase intensif yang biasanya terdiri dari 4 obat, terjadi pengurangan jumlah kuman disertai perbaikan klinis. Pasien yang infeksi menjadi noninfeksi dalam waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien dengan sputum BTA positif akan menjadi negative dalam waktu 2 bulan.
Selama fase lanjutan diperlukan lebih sedikit obat, tapi dalam waktu yang lebih panjang. Efek sterilisasi obat untuk membersihkan sisa-sisa kuman dan mencegah kekambuhan. Pada pasien dengan sputum BTA positif ada resiko terjadinya resistensi selektif. Penggunaan 4 obat selama fase awal dan 2 obat selama fase lanjutan akan mengurangi resiko resistensi selektif. Pada pasien dengan sputum BTA negatif atau TB ekstrapulmoner tidak terdapat resiko resistensi selektif karena jumlah bakteri di dalam lesi relatif sedikit. Pengobatan fase awal dengan 2 obat biasanya sudah memadai.
Pada pasien yang pernah diobati ada resiko terjadinya resistensi. Paduan pengobatan ulang terdiri dari 5 obat untuk fase awal dan 3 obat untuk fase lanjutan. Selama fase awal sekurang-kurangnya 2 di antara obat yang diberikan haruslah yang masih efektif.
Selama fase intensif yang biasanya terdiri dari 4 obat, terjadi pengurangan jumlah kuman disertai perbaikan klinis. Pasien yang infeksi menjadi noninfeksi dalam waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien dengan sputum BTA positif akan menjadi negative dalam waktu 2 bulan.
Selama fase lanjutan diperlukan lebih sedikit obat, tapi dalam waktu yang lebih panjang. Efek sterilisasi obat untuk membersihkan sisa-sisa kuman dan mencegah kekambuhan. Pada pasien dengan sputum BTA positif ada resiko terjadinya resistensi selektif. Penggunaan 4 obat selama fase awal dan 2 obat selama fase lanjutan akan mengurangi resiko resistensi selektif. Pada pasien dengan sputum BTA negatif atau TB ekstrapulmoner tidak terdapat resiko resistensi selektif karena jumlah bakteri di dalam lesi relatif sedikit. Pengobatan fase awal dengan 2 obat biasanya sudah memadai.
Pada pasien yang pernah diobati ada resiko terjadinya resistensi. Paduan pengobatan ulang terdiri dari 5 obat untuk fase awal dan 3 obat untuk fase lanjutan. Selama fase awal sekurang-kurangnya 2 di antara obat yang diberikan haruslah yang masih efektif.
Wanita hamil dan ibu menyusui:
Pengobatan standar dengan INH,
rifampisin dan pyrazinamid dapat diberikan pada wanita hamil dan
menyusui, dianjurkan pemberian piridoksin. Streptomisin tidak boleh
diberikan.
Anak-anak:
Anak-anak diberi INH, rifampisin, dan
pyrazinamid untuk 2 bulan fase awal dilanjutkan dengan INH dan
rifampisin selama 4 bulan. Jika pyrazinamid tidak diberikan selama fase
awal, maka pemberian INH dan rifampisin dilanjutkan selama 9 bulan.
Untuk anak resiko tinggi infeksi resisten. Etambunol harus termasuk
dalam pengobatan 2 bulan fase awal. Akan tetapi diperlukan perhatian
khusus pada anak yang kurang dari 6 tahun, karena sulitnya menilai
fungsi penglihatan.
Pasien immunocompromised: Pasien terserang kuman TB yang aktif kembali atau infeksi baru. Sering terjadi multi resisten atau infeksi oleh mikrobakterium lain seperti M. Avium. Kultur dan uji kepekaan harus selalu dilakukan. Infeksi M. Tuberkulosis yang peka terhadap obat primer diobati dengan regimen standar selama 6 bulan. Setelah pengobatan, pasien diberi profilaksis jangka panjang dengan INH.
Pasien immunocompromised: Pasien terserang kuman TB yang aktif kembali atau infeksi baru. Sering terjadi multi resisten atau infeksi oleh mikrobakterium lain seperti M. Avium. Kultur dan uji kepekaan harus selalu dilakukan. Infeksi M. Tuberkulosis yang peka terhadap obat primer diobati dengan regimen standar selama 6 bulan. Setelah pengobatan, pasien diberi profilaksis jangka panjang dengan INH.
Pantauan hasil terapi
Hasil pengobatan pada pasien BTA
positif harus dipantau dengan pemeriksaan sputum. Pemeriksaan dengan
cara lain bukan merupakan keharusan. Untuk pasien BTA negative dan TB
ekstra paru, hasil pengobatan didasarkan pada pemeriksaan klinis.
Biasanya diperlukan dua kali pemeriksaan ulang sputum.
Biasanya diperlukan dua kali pemeriksaan ulang sputum.
Pengawasan efek samping
Sebagian besar pasien menyelesaikan
pengobatan TB tanpa efek samping yang bermakna, namun sebagian kecil
mengalami efek samping. Oleh karena itu pengawasan klinis terhadap efek
samping harus dilakukan. Pemeriksaan laboratorium rutin bukan merupakan
keharusan.
Petugas kesehatan dapat memantau efek samping dengan dua cara. Pertama dengan menerangkan kepada pasien untuk mengenal tanda-tanda efek samping obat dan segera melaporkannya kepada dokter.
Kedua, dengan menanyakan secara khusus kepada pasien tentang gejala yang dialaminya.
Petugas kesehatan dapat memantau efek samping dengan dua cara. Pertama dengan menerangkan kepada pasien untuk mengenal tanda-tanda efek samping obat dan segera melaporkannya kepada dokter.
Kedua, dengan menanyakan secara khusus kepada pasien tentang gejala yang dialaminya.
Efek samping obat tuberkulostatik dapat dibagi efek samping mayor dan minor (lihat tabel).
Jika efek samping minor, maka
pengobatan dapat diteruskan dengan dosis biasa atau kadang-kadang dosis
perlu diturunkan. Dapat diberikan pengobatan simtomtastik. Jika timbul
efek samping mayor harus ditangani pada saat pelayanan khusus.
Obat-obatan anti tuberkulostatik
Isoniazid (INH)merupakan
obat yang cukup efektif dan berharga murah. Seperti rifampisin, INH
harus diikutsertakan dalam setiap regimen pengobatan, kecuali bila ada
kontra-indikasi. Efek samping yang sering terjadi adalah neropati
perifer yang biasanya terjadi bila ada faktor-faktor yang mempermudah
seperti diabetes, alkoholisme, gagal ginjal kronik dan malnutrisi dan
HIV. Dalam keadaan ini perlu diberikan peridoksin 10 mg/hari sebagai
profilaksis sejak awal pengobatan. Efek samping lain seperti hepatitis
dan psikosis sangat jarang terjadi.
Rifampisin merupakan komponen kunci dalam setiap regimen pengobatan. Sebagaimana halnya INH, rifampisin juga harus selalu diikutkan kecuali bila ada kontra indikasi.
Pada dua bulan pertama pengobatan dengan rifampisin, sering terjadi gangguan sementara pada fungsi hati (peningkatan transaminase serum), tetapi biasanya tidak memerlukan penghentian pengobatan. Kadang-kadang terjadi gangguan fungsi hati yang serius yang mengharuskan penggantian obat terutama pada pasien dengan riwayat penyakit hati. Selama fase intermiten (fase lanjutan) dilaporkan adanya 6 gejala toksinitas : influenza, sakit perut, gejala pernafasan, syok, gagal ginjal, purpura trombositopernia, dialami oleh 20-30% pasien. Rifampisin menginduksi enzim-enzim hati sehingga mempercepat metabolisme obat lain seperti estrogen, kortikosteroid, fenitoin, sulfonilurea, dan anti-koagulan. Penting : efektivitas kontrasepsi oral akan berkurang sehingga perlu dipilih cara KB yang lain.
Pyrazinamid bersifat bakterisid dan hanya aktif terhadap kuman intrasel yang aktif memlah dan mycrobacterium tuberculosis. Efek terapinya nyata pada dua atau tiga bulan pertama saja. Obat ini sangat bermanfaat untuk meningitis TB karena penetrasinya ke dalam cairan otak. Tidak aktif terhadap Mycrobacterium bovis. Toksifitas hati yang serius kadang-kadang terjadi.
Etambutol digunakan dalam regimen pengobatan bila diduga ada resistensi. Jika resiko resistensi rendah, obat ini dapat ditinggalkan. Untuk pengobatan yang tidak diawasi, etambutol diberikan dengan dosis 25 mg/kg/hari pada fase awal dan 15 mg/kg/hari pada fase lanjutan (atau 15 mg/kg/hari selama pengobatan). Pada pengobatan intermiten di bawah pengawasan, etambutol diberikan dalam dosis 30 mg/kg 3 kali seminggu atau 45 mg/kg 2 kali seminggu.
Efek samping etambutol yang sering terjadi adalah gangguan penglihatan dengan penurunan visual, buta warna dan penyempitan lapangan pandang. Efek toksik ini lebih sering bila dosis berlebihan atau bila ada gangguan fungsi ginjal.
Gangguan awal penglihatan bersifat subjektif; bila hal ini terjadi maka etambutol harus segera dihentikan. Bila segera dihentikan, biasanya fungsi penglihatan akan pulih. Pasien yang tidak bisa mengerti perubahan ini sebaiknya tidak diberi etambutol tetapi obat alternative lainnya. Pemberian pada anak-anak harus dihindari sampai usia 6 tahun atau lebih, yaitu disaat mereka bisa melaporkan gangguan penglihatan. Pemeriksaan fungsi mata harus dilakukan sebelum pengobatan.
Streptomisin saat ini semakin jarang digunakan, kecuali untuk kasus resistensi. Obat ini diberikan 15 mg/kg, maksimal 1 gram perhari. Untuk berat badan kurang dari 50 kg atau usia lebih dari 40 tahun, diberikan 500-700 mg/hari. Untuk pengobatan intermiten yang diawasi, streptomisin diberikan 1 g tiga kali seminggu dan diturunkan menjadi 750 ng tiga kali seminggu bila berat badan kurang dari 50 kg.
Untuk anak diberikan dosis 15-20 mg/kg/hari atau 15-20 mg/kg tiga kali seminggu untuk pengobatan yang diawasi. Kadar obat dalam plasma harus diukur terutama untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Efek samping akan meningkat setelah dosis kumulatif 100 g, yang hanya boleh dilampaui dalam keadaan yang sangat khusus.
Obat-obat sekunder diberikan untuk TBC yang disebabkan oleh kuman yang resisten atau bila obat primer menimbulkan efek samping yang tidak bisa ditoleransi. Termasuk obat sekunder adalah kapreomisin, sikloserin, makrolid generasi baru (azitromisin dan klaritromisin), 4-kuinolon (siprofloksasin dan ofloksasin) dan protionamid.
Rifampisin merupakan komponen kunci dalam setiap regimen pengobatan. Sebagaimana halnya INH, rifampisin juga harus selalu diikutkan kecuali bila ada kontra indikasi.
Pada dua bulan pertama pengobatan dengan rifampisin, sering terjadi gangguan sementara pada fungsi hati (peningkatan transaminase serum), tetapi biasanya tidak memerlukan penghentian pengobatan. Kadang-kadang terjadi gangguan fungsi hati yang serius yang mengharuskan penggantian obat terutama pada pasien dengan riwayat penyakit hati. Selama fase intermiten (fase lanjutan) dilaporkan adanya 6 gejala toksinitas : influenza, sakit perut, gejala pernafasan, syok, gagal ginjal, purpura trombositopernia, dialami oleh 20-30% pasien. Rifampisin menginduksi enzim-enzim hati sehingga mempercepat metabolisme obat lain seperti estrogen, kortikosteroid, fenitoin, sulfonilurea, dan anti-koagulan. Penting : efektivitas kontrasepsi oral akan berkurang sehingga perlu dipilih cara KB yang lain.
Pyrazinamid bersifat bakterisid dan hanya aktif terhadap kuman intrasel yang aktif memlah dan mycrobacterium tuberculosis. Efek terapinya nyata pada dua atau tiga bulan pertama saja. Obat ini sangat bermanfaat untuk meningitis TB karena penetrasinya ke dalam cairan otak. Tidak aktif terhadap Mycrobacterium bovis. Toksifitas hati yang serius kadang-kadang terjadi.
Etambutol digunakan dalam regimen pengobatan bila diduga ada resistensi. Jika resiko resistensi rendah, obat ini dapat ditinggalkan. Untuk pengobatan yang tidak diawasi, etambutol diberikan dengan dosis 25 mg/kg/hari pada fase awal dan 15 mg/kg/hari pada fase lanjutan (atau 15 mg/kg/hari selama pengobatan). Pada pengobatan intermiten di bawah pengawasan, etambutol diberikan dalam dosis 30 mg/kg 3 kali seminggu atau 45 mg/kg 2 kali seminggu.
Efek samping etambutol yang sering terjadi adalah gangguan penglihatan dengan penurunan visual, buta warna dan penyempitan lapangan pandang. Efek toksik ini lebih sering bila dosis berlebihan atau bila ada gangguan fungsi ginjal.
Gangguan awal penglihatan bersifat subjektif; bila hal ini terjadi maka etambutol harus segera dihentikan. Bila segera dihentikan, biasanya fungsi penglihatan akan pulih. Pasien yang tidak bisa mengerti perubahan ini sebaiknya tidak diberi etambutol tetapi obat alternative lainnya. Pemberian pada anak-anak harus dihindari sampai usia 6 tahun atau lebih, yaitu disaat mereka bisa melaporkan gangguan penglihatan. Pemeriksaan fungsi mata harus dilakukan sebelum pengobatan.
Streptomisin saat ini semakin jarang digunakan, kecuali untuk kasus resistensi. Obat ini diberikan 15 mg/kg, maksimal 1 gram perhari. Untuk berat badan kurang dari 50 kg atau usia lebih dari 40 tahun, diberikan 500-700 mg/hari. Untuk pengobatan intermiten yang diawasi, streptomisin diberikan 1 g tiga kali seminggu dan diturunkan menjadi 750 ng tiga kali seminggu bila berat badan kurang dari 50 kg.
Untuk anak diberikan dosis 15-20 mg/kg/hari atau 15-20 mg/kg tiga kali seminggu untuk pengobatan yang diawasi. Kadar obat dalam plasma harus diukur terutama untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Efek samping akan meningkat setelah dosis kumulatif 100 g, yang hanya boleh dilampaui dalam keadaan yang sangat khusus.
Obat-obat sekunder diberikan untuk TBC yang disebabkan oleh kuman yang resisten atau bila obat primer menimbulkan efek samping yang tidak bisa ditoleransi. Termasuk obat sekunder adalah kapreomisin, sikloserin, makrolid generasi baru (azitromisin dan klaritromisin), 4-kuinolon (siprofloksasin dan ofloksasin) dan protionamid.
http://www.kaskus.co.id/thread/534bad4b118b46ae2e8b463d| digali.blogspot.com
