Kalo lo sering ngatain " DASAR CINA" baca nih gan,...




"SORI ANE PRIBUMI DAN ANE BUAT TRIT INI UTK MERESPECT WNA KHUSUSNYA TIONGHOA KETURUNAN , KARENA BAGAIMANA PUN KITA INI SAMA DI MATA ALLAH SWT , YG MEMBEDAKAN HANYA AMAL IBADAH "

Spoiler for Klik deh gan:


Ane kemarin dapet kesempatan training di perusahaan minyak. Kebetulan di office bareng-bareng sama orang-orang dari berbagai negara... Ada dari US, Latin, Afrika dan ada jg pribumi keturunan TH... Ane sama orang2 kantor hubungannya baik-baik aja gan. Kerja bareng, cuman pas lagi istirahat atau ada acara kantor, yang TH itu pada gerombolan dengan sesama TH lagi. Sedangkan ane sih gabung sama yg dr US Latin sama Afrika... Ane kadang kayak yang "What wrong with us?" ... Ane sebenernya engga pernah dan gak mau milih2 dalam memiliki relasi... Tapi mereka sendiri (TH) yang gitu... Ya emang ga semuanya TH di Indo kayak gitu... Tapi kebanyakan gan... Kita kadang kurang respect karena emang merekanya yang kurang mudah untuk berbaur dengan pribumi... Padahal kalo mereka berbaur, kita semua tau kan kalo pribumi itu kebanyakan welcome sama orang-orang...

Nah masalahnya, kita anggap mereka pendatang, dan kita pribumi... Analogikan kita sebagai pemilik rumah, dan mereka tamu... Asalkan tamu itu mau berbaur, pemilik rumah mana sih yang bakal mempermasalahkan itu semua? Malah kita sebagai pribumi bakal seneng nambah relasi...

Ya itu cuma opini ane aja sih... Semuanya balik lagi ke pribadi masing-masing... Ane minta maaf kalo ada kata-kata ane yang kurang berkenan... Kita semua Indon, kita semua satu... Selama kita bisa saling menghargai, menghormati dan tidak saling mengganggu kepentingan masing-masing (entah dari etnis manapun) toh semuanya will be allright kan?

Sekali lagi sorry dari ane... Dan maaf juga kalo gaya bicara ane kayak Vicky yang sok sok an pake bahasa inggris... Maklum, 29 my age hahaha

Sesuai judulnya gan ane mau share ke agan2 skalian kalo ternyata ada warga non pribumi yang pastinya kita tidak tahu..( bahkan ane juga gak tau kalo gak baca bukunya ) tentang prestasi beliau yang berhasil membantah penemuan ilmuwan luar negeri yg notabene lebih canggih dan memiliki sarana dan prasaran yg lebih canggih ketimbang kita gan..salut

Spoiler for Beliau adalah:
Joe Hin Tjio


Spoiler for Galeri fotonya gan !:


Spoiler for Galeri fotonya gan !:


Spoiler for Galeri fotonya gan !:


Spoiler for Galeri fotonya gan !:


Spoiler for Galeri fotonya gan !:


Spoiler for Kisahnya gan..!:
Joe Hin Tjio adalah seorang ilmuwan genetika kelahiran Indonesia, yang menemukan bahwa kromosom manusia berjumlah 23 pasang. Tjio yang dilahirkan di Pulau Jawa pada 2 November 1919, lebih sering dikenal sebagai ahli sitogenetika Amerika karena selama 23 tahun terakhir hidupnya dihabiskan di Institut Kesehatan Nasional (National Institute of Health).

Latar belakang Penemuan 23 pasang kromosom manusia.

Pada tahun 1921, Theophilus Painter secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengamati dan menghitung jumlah kromosom pada manusia. Dia mengamati sel testis dari dua pria kulit hitam yang meminta dikebiri dengan cara membuat sayatan tipis dan diproses dengan larutan kimia. Setelah diamati di bawah mikroskop, Painter menemukan adanya serabut-serabut kusut yang ternyata adalah kromosom tak berpasangan pada sel testis dan jumlahnya 24 pasang. Selama hampir 30 tahun, para ilmuwan menyakini temuan tersebut dan mereka juga melakukan penghitungan dengan cara lain yang juga mendapatkan hasil 24 pasang kromosom manusia.

Pada 22 Desember 1955, Joe menghasilkan suatu penemuan secara kebetulan ketika dia sedang memisahkan kromosom dari inti sel (nukleus) sejumlah sel. Dia mencoba mengembangkan suatu teknik untuk memisahkan kromosom di preparat (slide) kaca. Ketika preparat tersebut diamati di bawah mikroskop, dia menemukan hasil yang mengejutkan, yaitu terdapat 46 kromosom (23 pasang) pada jaringan embrionik paru-paru manusia. Joe kemudian menuliskan temuannya dalam Scandinavian journal Hereditas, pada 26 January 1956. Di masa itu, merupakan suatu kewajiban di Eropa untuk menuliskan nama kepala lab sebagai penulis utama sebagai pengakuan/penghormatan atas bimbingan dan dukungan yang diberikan lab tersebut, namun Tjio menolak untuk melakukannya. Dia mengancam akan membuang karyanya bila tidak ditempatkan sebagai penulis utama pada jurnal temuan tersebut hingga akhirnya nama Tjio tercantum sebagai penulis utama (first author), sedangkan Albert Levan sebagai penulis pendamping (co-author).

Teknik yang dikembangkannya untuk pengamatan kromosom pada manusia merupakan salah satu temuan besar di bidang sitogenetika (cabang ilmu genetika yang mempelajari hubungan antara hereditas dengan variasi dan struktur kromosom). Tjio membantu pengembangan sitogenetika menjadi salah satu bidang penting dalam bidang medis di tahun 1959 seiring dengan penemuan kromosom tambahan pada penderita sindrom down yang menghasilkan. Dia menunjukkan bahwa ada kaitan antara kromosom abnormal dengan penyakit tertentu.

Setelah penemuannya mengenai jumlah tepat kromosom manusia, Tjio sering mendapatkan undangan untuk mengajar atau membawakan seminar. Pada kongres internasional mengenai genetika manusia (International Human Genetics Congress) di Copenhagen tahun 1956, Tjio mendapatkan tawaran untuk pindah dan bekerja di Amerika Serikat dari Herman Muller, peraih Nobel di bidang genetika dan profesor di Universitas Indiana. Awalnya, Tjio sempat menolak sebelum pada akhirnya ia menyetujui untuk mengembangkan penelitiannya di Universitas Colorado pada tahun 1957. Beberapa saat kemudia, dia bergabung dengan Institut Nasional Artritis dan Laboratorium Penelitian Patologi terhadap Penyakit Metabolik di Bethesda, Maryland - Amerika Serikat. Bersama dengan Institut Kesehatan Nasional Amerika (National Institutes for Health), Tjio mengembangkan penelitiannya mengenai kromosom dan mempelajari lebih dalam kaitannya dengan leukimia dan keterbelakangan (retardasi) mental.

Pada 6 Desember 1962, Tjio menerima International Prize Award winner dari yayasan Joseph P. Kennedy, Jr. yang diberikan secara langsung oleh Presiden AS saat itu, John F. Kennedy untuk karyanya dalam bidang keterbelakangan mental. Pada Februari 1992, Tjio pensiun dengan status sebagai ilmuwan emeritus. Pada usianya yang ke-78 (1997), Tjio berpindah dari tempat tinggalnya di dekat NIH ke Asbury Methodist Village, suatu kompleks pensiunan di daerah Gaithersburg, Maryland. Hingga pada 27 November 2001, Tjio meninggal pada usia 92 tahun.



Spoiler for bukti nerima award dari kennedy.. sori pic kecil gan:




Back to Top

Artikel Terkait Lainnya

Back to Top