Siapa sangka ternyata Gubernur Jenderal di Jawa (Hindia-Belanda), Thomas Stamford Bingley Raffles, yang juga dikenal sebagai pendiri Negara Singapura, awalnya ingin mendirikan kota pelabuhan keren bernama Singapura, di Buleleng, Bali.
Ide Raffles ini muncul ketika dia berkunjung pertama kali ke Buleleng pada 1811. Dikutip dari www.buleleng.com, waktu itu, Buleleng dikuasai oleh salah satu raja asal Karangasem bernama I Gusti Gde Karang. Dia bertahta sebagai raja Buleleng pada 1806 hingga 1818. Selain Buleleng dan Karangasem, dia juga menguasai Jembrana.
Karangasem merebut wilayah Buleleng dari Kerajaan Mengwi pada 1783. Sebelumnya, Mengwi merebut Buleleng, setelah raja Buleleng yang dikenal sakti tiada tanding wafat pada 1699, yakni Ki Gusti Panji Sakti alias Ki Barak, Gede Pasekan, Gusti Panji, Ki Panji Sakti atau Ki Gusti Anglurah Panji Sakti.
I Gusti Gde Karang juga dikenal berwatak keras dan selalu curiga kepada bangsa asing. Pada zaman itu bangsa asing, seperti Belanda dan Inggris, memang ingin menguasai Bali melalui Buleleng dan Jembrana. Raffles, adalah salah satu orang asing yang jatuh cinta dan ingin menguasai Bali.
Raffles ingin bekerja sama dengan Gde Karang untuk membangun kota pelabuhan dengan nama Singapura. Raffles tergiur melihat keramaian pelabuhan Buleleng. Pelabuhan itu sangat strategis, letaknya di antara kepulauan Nusantara. Apalagi Buleleng kala itu sedang berjaya dari hasil monopoli candu dan penjualan budak.
Gde Karang rupanya tertarik dengan rencana Raffles. Namun rupanya sulit mewujudkan karena Raffles menentang penjualan budak yang terus dilaksanakan oleh Gde Karang. Di antara cinta dan marah, pada 1814, Raffles membawa kapal perang Inggris ke Buleleng, namun tidak terjadi pertempuran.
Pada malam hari, Rabu, 24 Nopember 1815, justru terjadi musibah bencana alam di Buleleng. Beberapa desa tertimbun lumpur dengan penghuninya. Baru pada 1849, kekuasaan Karangasem berakhir akibat musibah, dan serangan pasukan perang kolonial Belanda yang datang menghancurkan benteng pertahanan Buleleng di Jagaraga.
Buleleng akhirnya hancur. Sementara niat Raffles mendirikan pelabuhan dan kota Singapura di Bali tidak terlaksana. Pada 28 Januari 1819, Raffles mendarat di pulau utama di Singapura. Dari kunjungan itu akhirnya dia baru berhasil mendirikan kota kecil impiannya bernama Singapura.
Setelah melihat potensinya sebagai pos dagang strategis untuk kawasan Asia Tenggara, Raffles menandatangani perjanjian dengan Sultan Hussein Shah atas nama Perusahaan Dagang Hindia Timur Britania pada 6 Februari 1819, untuk mengembangkan bagian selatan Singapura sebagai pos dagang dan permukiman Britania.
Jadi andai waktu itu Raja Karangasem yang menguasai Buleleng benar-benar menjalin kerja sama dengan Raffles, bukan tidak mungkin Singapura berdiri di Bali.
[mtf]

