SEMUA orang yang menaiki pesawat terbang tidak boleh mengaktifkan ponsel maupun gadget lainnya. Hal itu tentu berdasarkan suatu alasan yang kuat.
Awalnya peraturan menonaktifkan ponsel hanya dilakukan di saat krusial seperti lepas landas dan mendarat. Tetapi, kini peraturan itu berlaku setiap saat selama di pesawat. Pemberitahuan pun selalu dilakukan untuk menghindari adanya penumpang yang lupa mematikan ponsel.
Sementara pilot harus terus berkomunikasi dengan menara pengawas atau air traffic controller (ATC) di bandara. Jika ada ponsel yang aktif, maka sinyalnya dapat menyebabkan distorsi yang mengganggu komunikasi tersebut sehingga berbahaya bagi pesawat.
“Bayangkan kalau landing, di poin-poin krusial saat pilot berkomunikasi dengan ATC lalu ada distorsi, bisa kecelakaan,” ujar Sardjono Djony, mantan Dirut Merpati Airlines yang pernah berprofesi sebagai pilot, kepada Okezone, melalui sambungan telefon, Kamis (8/1/2015).
Penumpang yang sudah mengetahui hal ini diharapkan mematuhi aturan yang diberikan dalam penerbangan demi keselamatan bersama. Sardjono menyebutkan, mengaktifkan ponsel di pesawat adalah perbuatan sia-sia, penumpang tidak dapat menghubungi siapa pun, karena tidak adanya sinyal di ketinggian.
“Kita belajar dari kesalahan demi kesalahan. Mau menyalakan handphone di pesawat percuma, karena di atas tidak ada sinyal,” ujar Sardjono.
Ia menjelaskan, meskipun sinyal ponsel tidak berhubungan dengan pesawat, hal itu dapat membuat komunikasi pilot dengan menara pengawas terganggu.
“Walaupun penumpang menyalakan handphone tidak akan membuat pesawat meledak, yang pasti sangat memungkinkan terjadinya gangguan komunikasi pilot dengan menara pengawas,” tutup Sardjono.


No comments:
Post a Comment