SAYA pernah tiga kali kehilangan helm dalam rentang sepuluh tahun terakhir karena menaruhnya sembarangan. Tapi, ternyata ada persoalan yang lebih serius saat menaruhnya sembarangan. Apa itu?
Begini ceritanya.
Sekitar tujuh tahun lalu ada kebiasaan menaruh helm di atas tanki sepeda motor. Kebiasaan itu biasanya saat kuda besi yang di parkir di area kopi darat (kopdar) atau di area parkir yang tidak terlalu lama dan mudah terlihat. Pada suatu ketika, helm yang ditaruh itu menimbulkan bau uap bahan bakar minyak (BBM) yang berhembus dari celah tutup tanki sepeda motor. Baunya lumayan menyengat, walau lama kelamaan menghilang dengan sendirinya.
Bau yang berhembus dari uap BBM itu sempat membuat kepala agak pusing dan perut mual. Sejak saat itulah kebiasaan menaruh helm di atas tanki sepeda motor tidak diulang lagi. Kapok.
Nah, kalau soal helm hilang saat ditaruh di parkiran kejadiannya beragam. Kejadian pertama terjadi pada suatu malam pada 2004 di kawasan Setia Budi, Jakarta Selatan. Malam itu, saya parkir di dekat pos dan sempat pamit dengan petugas yang jaga pos. Helm ditaruh saja di atas spion. Setelah sekitar satu jam mau mengambil motor, sang helm sudah raib. Hingga saat ini.
Mirip dengan kejadian pertama, saya pernah kehilangan helm di kawasan Margonda, Depok. Helm di taruh di atas jok sepeda motor. Di sekitar situ ramai dengan penjaga rumah makan. Tapi dasar apes, sang helm raib bak ditelan bumi, tidak ada yang melihat.
Sedangkan kejadian paling miris saat kehilangan helm di parkiran kantor sendiri di bilangan Jakarta Selatan. Helm ditaruh di tempat penitipan helm yang tidak berkarcis jadi risiko tanggung sendiri. Ironisnya, saat saya bertanya kepada penjaga parkir soal helm yang hilang dijawab dengan enteng. “Kalau helm bagus lebih baik dibawa aja pak. Saya gak tahu karena baru ganti shift,” kata sang penjaga parkir.
Hemmm. Menyesakkan dada memang. Karena pernah, terpaksa meminjam helm teman yang ukurannya gak pas. (edo rusyanto)

