Quote:
Mendengar
dan membaca berita di tanah air tentang kasus kekerasan pada anak dari
orang dewasa maupun anak-anak lain, pelecehan seksual mulai dari kasus
JIS, Emon dll, membuat
kita berpikir dimana tempat yang aman buat anak kita. Di rumah, di
sekolah apalagi di tempat bermain selalu ada bahaya yang mengancam
mereka.
Semakin lama hal tersebut dibiarkan maka bisa jadi akan membuat kita sebagai orang tua menjadi paranoid tentang keselamatan mereka. Homeschooling yang dulu sempat diperdebatkan kemudian seolah menjadi jalan alternatif mencari rasa aman tersebut. Mungkin bisa jadi solusi jika orientasi kita hanya sebatas peningkatan IQ, tetapi bagaimana dengan EQ dan SQ mereka jika tidak diberi kesempatan bergaul dengan dunia luar.
Mungkin campur tangan pemerintah dan masyarakat harus lebih diperbesar lagi, tidak hanya dengan cara mengubah kurikulum yang kadang malah membingungkan tetapi dengan terobosan lain. Lalu bagaimana dengan jepang?
Spoiler for Ilus:
Semakin lama hal tersebut dibiarkan maka bisa jadi akan membuat kita sebagai orang tua menjadi paranoid tentang keselamatan mereka. Homeschooling yang dulu sempat diperdebatkan kemudian seolah menjadi jalan alternatif mencari rasa aman tersebut. Mungkin bisa jadi solusi jika orientasi kita hanya sebatas peningkatan IQ, tetapi bagaimana dengan EQ dan SQ mereka jika tidak diberi kesempatan bergaul dengan dunia luar.
Spoiler for IQ EQ SQ:
Mungkin campur tangan pemerintah dan masyarakat harus lebih diperbesar lagi, tidak hanya dengan cara mengubah kurikulum yang kadang malah membingungkan tetapi dengan terobosan lain. Lalu bagaimana dengan jepang?
Quote:KEBIJAKAN SEKOLAH & PEMERINTAH JEPANG DALAM MEMPERHATIKAN KEAMANAN DAN KESELAMATAN ANAK
Quote:
"Kebetulan anak saya sedang menikmati sekolahnya yang menyenangkan di sebuah SD di Utsunomiya shi". - Pak Sunardi Al Banyumasi,
Sebagai Contoh SD di Utsunomiya Shi, Para orang tua mendapatkan
beberapa informasi sekolah yang bisa mereka ketahui dari beberapa
brosur, buku dan pamflet yang diberikan di kotak pos. Semua anak usia
sekolah dan pra sekolah mendapat tunjangan anak (kodomo teate) yang
besarnya tergantung dari kemampuan pemerintah kota yang ditempati (di
Utsunomiya usia pra SD sebesar 15.000 yen/bulan dan usia SD sebesar
10.000 yen),
Maka beberapa kebijakan sekolah dan pemerintah juga sangat memperhatikan keamanan dan keselamatan anak, antara lain :
(Shift + X Untuk Membuka Semua Spoiler)
Spoiler for Kodomo Teate:
Maka beberapa kebijakan sekolah dan pemerintah juga sangat memperhatikan keamanan dan keselamatan anak, antara lain :
(Shift + X Untuk Membuka Semua Spoiler)
Spoiler for 1.:
1.
Anak usia di bawah 9 tahun tidak boleh ditinggal di rumah sendirian,
kalau ketahuan bisa jadi berurusan dengan pihak kepolisian karena hal
tersebut membahayakan keselamatan anak.

Spoiler for 2.:
2.
Setiap anak baru masuk SD kelas satu maka di tas mereka akan dilengkapi
cover bergambar seorang anak bersama seorang dewasa. Gambar tersebut
diartikan anak tersebut memerlukan pertolongan orang lain sehingga orang
yang melihat WAJIB menolong jika ada sesuatu terjadi pada anak
tersebut, misalnya bahaya atau bahkan sekedar menyeberang jalan. Anak
sekolah dengan atribut seperti itu tidak boleh berjalan atau bepergian
sendirian. Pernah suatu waktu kami terlambat menjemput anak di
sekolahnya ternyata senseinya yang mengantarkan dia sampai di jalan
bertemu dengan kami.

Spoiler for 3.:
3.
Proses berangkat dan pulang sekolah selalu dalam kelompok-kelompok
kecil sesuai dengan tempat tinggalnya, satu kelompok memiliki satu orang
ketua yang biasanya paling senior (Hancho). Setiap kelompok mempunyai
tempat berkumpul tertentu dan dari pool tersebut mereka berangkat
bersama dibawah komando sang Hancho tersebut.

Spoiler for 4.:
4.
Untuk proses pulang kadang berbeda kelompok karena antara kelas 1
sampai kelas 6 kadang mempunyai jadwal pulang yang berbeda. Jika tidak
bersama dengan kelompok berangkat maka orang tua WAJIB menjemput ke
sekolahya. Beberapa siswa dibuat kelompok pulang dengan teman yang
selevel terutama kelas satu dan orang tua yang bersangkutan diberi
jadwal menjemput sampai sekolahnya, dan orang tua yang lain bisa
menunggu ditempat-tempat tertentu. Kadang kalau salah satu orang tua
tidak menjemput maka yang lain akan mengantarkan sampai ke rumah/apato
yang bersangkutan. Pihak sekolah tidak akan mengijinkan orang lain
menjemput tanpa tanda khusus yang meyakinkan sekolah bahwa yang
bersangkutan berhak menjemput.

Spoiler for 5.:
5.
Semua tas anak dilengkapi dengan “Emergency alarm” atau alarm tanda
bahaya. Anak-anak akan diberi tahu pihak sekolah tentang penggunaan
alarm tersebut dan bahkan diberi simulasi dan pelatihan bahaya apa saja
yang bisa mengancam mereka sehingga mereka harus membunyikan alarm
tersebut, misalnya penculikan, kecelakaan dll. Tidak hanya anak yang
diberi pengetahuan tentang larm itu, orang dewasa pun baik itu orang tua
maupun masyarakat juga diberi penjelasan tentang kewajiban mereka
menolong jika ada anak yang membunyikan alarm bahaya, jadi keselamatan
anak adalah tanggung jawab semua orang.

Spoiler for 6.:
6.
Pemerintah Jepang juga meminta kesediaan beberapa rumah, toko, tempat
praktek dokter dan lain-lain sebagai tempat meminta pertolongan jika ada
sesuatu mengancam keselamatan anak. Rumah-rumah atau toko yang bersedia
menjadi relawan dan siap menolong tersebut biasanya di beri stiker
dengan gambar yang sama dengan stiker yang menempel di tas anak kelas
satu (gambar di atas), yaitu gambar anak yang sedang dibantu orang
dewasa. Dari pihak sekolah juga member tahu anak tentang tempat-tempat
yang siap menolong mereka ketika mereka dalam keadaan bahaya, sehingga
mereka paham kemana mereka minta pertolongan.


Spoiler for 7.:
7.
Setiap awal tahun ajaran ketika berganti wali kelas, maka wali kelas
tersebut akan mendatangi rumah siswa satu persatu, berkenalan dan
berkomunikasi dengan orang tuanya secara langsung, mungkin hal ini tidak
pernah terjadi di Indonesia meskipun mudah dilakukan.

Spoiler for 8.:
8.
Layanan komunikasi juga mendukung terjaganya keselamatan anak. Sistem
telepon paket keluarga seolah wajib dipunyai oleh orang tua. Dalam paket
ini anak diberi HP yang harus selalu mereka bawa kemanapun pergi yang
juga dilengkapi dengan alarm tanda bahaya seperti yang menempel di tas
sekolah mereka. HP ini hanya bisa digunakan untuk menelpon dan menerima
telpon dari orang tuanya. Bahkan jika HP ini mati atau tidak aktif,
pihak operator akan memperi informasi tentang hal itu dan mungkin
tujuannya agar orang tua mengecek keberadaan anak. HP khusus anak
tersebut bebas pulsa dan gratis selamanya, hanya perlu beli pertama kali
dengan harga yang relative sangat murah.

Quote:
Mungkin itu beberapa hal yang BERBEDA dari cara menjaga anak di Jepang dan Indonesia,
dan terbukti angka kekerasan dan mungkin lebih spesifik kekerasan pada
anak di Jepang sangat kecil. Hal yang bertolak belakang terjadi di
Indonesia, semakin hari semakin mengerikan dan benar-benar membuat
paranoid kita sebagai orang tua. Dalam beberapa hal, tidak ada salahnya
kita mengambil metode-metode yang baik tersbut meskipun itu dari sebuah
negara yang penduduknya mayoritas tidak beragama dan bahkan di sekolah
tidak mengajarkan pendidikan agama.
Quote:
Sekilas membanding dengan Jepang,
meski mungkin tidak secara detail saya ketahui, tetapi minimal apa yang
dapat terlihat menunjukkan banyak perbedaan yang mungkin sebagian bisa
kita adopsi dan aplikasikan di tanah air. Saya yakin bukan hanya karena
di Jepang tingkat natalitas atau kelahiran yang sangat rendah sehingga
jumlah anak kecil sangat sedikit sehingga mereka sangat protektif
terhadap keberadaan anak, karena bagi orang Jepang semua nyawa adalah
sangat berharga, tidak hanya manusia….Bahkan ketika akan makan, doa
orang Jepang adalah dengan mengucap (頂きます) Itadakimasu, yang kadang
diartikan mari kita makan, padahal kata orang Jepang itu artinya “terima
kasih telah memberikan kehidupanmu untuk kami…sebuah ucapan terima
kasih kepada yang kita makan, tumbuhan dan hewan…

+JAPANESE SCHOOL LIFE
Spoiler for 1 - 6:
Quote:
Spoiler for 7-12:
Quote:
Spoiler for 13 - 18:
Quote:
Spoiler for 19 - 24:
Quote:
Spoiler for 25 - 30:
http://www.kaskus.co.id/thread/5376a811ab07e7766b8b45d7| digali.blogspot.com
