Dalam sebuah musibah kecelakaan pesawat terbang, lazimnya hal yang juga penting dilakukan selain menyelamatkan korban adalah menemukan kotak hitam atau black box. Kotak hitam pesawat terbang diciptakan untuk merekam segala kegiatan yang ada selama penerbangan, dengan demikian dapat digunakan untuk mencari informasi mengenai penyebab kecelakaan.
Meski bernama kotak hitam, sesungguhnya benda itu memiliki warna oranye, demi tujuan agar memudahkan pencarian. Pada kotak hitam terdapat dua alat perekam yaitu Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder. FDR dapat merekam hingga 700 macam parameter seperti waktu terbang, tekanan udara, ketinggian pesawat, kecepatan angin, keseimbangan horizontal hingga arah kompas. Sementara CVR merekam hingga 25 menit pembicaraan di dalam kokpit pilot.
Kotak hitam biasanya tersimpan di bagian ekor pesawat, karena pada bagian tersebut biasanya relative lebih aman daripada bagian lain, misalnya bagian depan. Selain itu kotak hitam terbuat dari bahan yang tahan hingga suhu 1.100 oC selama 1 jam, dapat bertahan di dalam air laut selama 30 hari, mampu menahan benturan hingga 3.400 G, mampu menahan beban seberat 5.000 pond pada semua sumbunya serta mampu bertahan di kedalaman air laut dan berbagai macam bahan kimia. Di samping itu kotak hitam ini dilengkapi dengan Under Water Locator Beacon yang mampu memancarkan sinyal hingga di kedalaman 14.000 kaki di bawah permukaan air laut.
Awalnya alat semacam pencatat aktifitas di pesawat terbang sudah diterapkan pada model pesawat sederhana ciptaan Wright Brother di tahun 1900-an, hanya saja bentuknya lebih simple, yakni berupa alat perekam putaran propeler. Namun kotak hitam yang sesungguhnya baru diciptakan oleh seorang asal Australia yaitu David Warren. Ide penciptaan black box ini adalah karena adanya kecelakaan pesawat jet De Havilland Comet DH-106 yang tidak diketahui penyebabnya.
Warren lalu memikirkan tentang sebuah alat perekam suara kru, pembaca instrument penerbangan dan mendesainnya untuk penerbangan pertama di tahun 1956, namun baru di tahun 1958 badan otoritas penerbangan Amerika Serikat atau FAA mewajibkan penggunaan kotak hitam pada penerbangan sipil.
Untuk dapat dianalisis sebelum kemudian diambil suatu kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan, data dari FDR dan CVR harus dibaca dengan menggunakan suatu piranti lunak yang khusus. Di Amerika Serikat, hal tersebut dilakukan pada suatu laboratorium badan keselamatan transportasi nasional dan proses ini bisa memakan waktu hingga berminggu bahkan berbulan-bulan.

